
Hari ke-29
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Hari ke-29
KUALITAS HIDUP TANPA ALLAH
... manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.
2 Timotius 3:1-5
Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam jangka waktu (2Tim. 3:2) tertentu, dengan intensitas yang berulang-ulang keadaan lingkungan tertentu dapat membentuk perilaku manusia. Ada pilihan yang tidak mudah dalam keadaan ini. Melebur untuk memiliki kesamaan perilaku dengan lingkungan agar diterima, atau bertahan dengan prinsip yang kokoh walaupun risikonya ditolak dan terus-menerus mengalami tekanan. Banyak yang gagal untuk bertahan, tetapi tidak sedikit juga yang bertahan dan lambat laun justru menjadi tokoh pembaru di lingkungan yang buruk itu. Rasul Paulus menasihati Timotius mengenai kualitas hidup manusia yang tidak memedulikan kuasa Allah. Akan datang saatnya di mana segala sesuatu dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kepentingan dan kesenangan diri sendiri tanpa memerhatikan suara hati nurani. Mereka beragama, tetapi melupakan inti dan makna dari agama. Rasul Paulus mengajak Timotius untuk berhati-hati di dalam menghadapi orang seperti itu karena pengaruh buruk mereka secara tidak langsung dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Youth, godaan dalam hidup datang silih berganti. Ada waktu di mana kita akan menemui kemudahan-kemudahan untuk meladeni keinginan jahat kita dan melupakan kuasa Allah. Ada pepatah manusia jatuh bukan karena terantuk batu besar, melainkan batu yang kecil. Lingkungan di mana kita hidup dapat saja diwarnai oleh perilaku buruk. Saat itu terjadi, ingatlah, kualitas hidup tanpa Allah hanya akan melahirkan kesusahan dan bencana. Waspadalah!
1. 2. Mengapa Timotius perlu diingatkan akan masa-masa sukar? Bagaimana sikap Anda terhadap orang yang berperilaku buruk seperti digambarkan Paulus? Kaum muda memiliki perilaku yang benar.
Pokok Doa:
Hari ke-29
KUALITAS HIDUP TANPA ALLAH
... manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.
2 Timotius 3:1-5
Manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam jangka waktu (2Tim. 3:2) tertentu, dengan intensitas yang berulang-ulang keadaan lingkungan tertentu dapat membentuk perilaku manusia. Ada pilihan yang tidak mudah dalam keadaan ini. Melebur untuk memiliki kesamaan perilaku dengan lingkungan agar diterima, atau bertahan dengan prinsip yang kokoh walaupun risikonya ditolak dan terus-menerus mengalami tekanan. Banyak yang gagal untuk bertahan, tetapi tidak sedikit juga yang bertahan dan lambat laun justru menjadi tokoh pembaru di lingkungan yang buruk itu. Rasul Paulus menasihati Timotius mengenai kualitas hidup manusia yang tidak memedulikan kuasa Allah. Akan datang saatnya di mana segala sesuatu dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kepentingan dan kesenangan diri sendiri tanpa memerhatikan suara hati nurani. Mereka beragama, tetapi melupakan inti dan makna dari agama. Rasul Paulus mengajak Timotius untuk berhati-hati di dalam menghadapi orang seperti itu karena pengaruh buruk mereka secara tidak langsung dapat memengaruhi kehidupan orang lain. Youth, godaan dalam hidup datang silih berganti. Ada waktu di mana kita akan menemui kemudahan-kemudahan untuk meladeni keinginan jahat kita dan melupakan kuasa Allah. Ada pepatah manusia jatuh bukan karena terantuk batu besar, melainkan batu yang kecil. Lingkungan di mana kita hidup dapat saja diwarnai oleh perilaku buruk. Saat itu terjadi, ingatlah, kualitas hidup tanpa Allah hanya akan melahirkan kesusahan dan bencana. Waspadalah!
1. 2. Mengapa Timotius perlu diingatkan akan masa-masa sukar? Bagaimana sikap Anda terhadap orang yang berperilaku buruk seperti digambarkan Paulus? Kaum muda memiliki perilaku yang benar.
Pokok Doa:
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



