
Hari ke-29
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Hari ke-29
HAWA NAFSU
Yakobus 4:1-10
Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
Manusia bisa menjadi serigala bagi sesamanya karena hawa nafsu yang tidak mampu dikendalikan dengan baik. Hawa nafsu yang terkendali akan menjadi hasrat dan semangat untuk menggapai sesuatu, sedangkan hawa nafsu yang tidak ter(Yak. 4:1) kendali senantiasa akan menyebabkan banyak kerusakan. Prinsip “menang-kalah” acapkali memancing kita untuk memuaskan hawa nafsu kita. Saat itulah kita melupakan persahabatan dan pertalian kekerabatan yang mungkin sudah dibangun sekian lama demi untuk memuaskan hasrat diri kita. Hal yang muncul kemudian adalah sengketa dan pertengkaran di antara sahabat. Kondisi yang demikian mendorong penulis Surat Yakobus untuk memberikan peringatannya kepada setiap orang pada zamannya, tetapi juga kepada kita pada zaman sekarang. Pertengkaran dan perselisihan di antara kita acapkali terjadi karena kita tidak mampu mengendalikan hasrat kemanusiaan kita. Manusia selalu tergoda dan ingin menjadi “lebih” dibandingkan dengan manusia lainnya. Untuk semua itu tidak jarang kita melakukan apa pun, termasuk di dalamnya mengorbankan sahabat. Padahal kehilangan satu orang sahabat sudah terlalu banyak kerugiannya bagi kita, sementara mendapatkan seribu sahabat masih terlalu sedikit keuntungannya bagi kita. Semakin luas persahabatan dapat kita bangun bagi sebanyak mungkin orang di sekitar kita akan melahirkan keindahan yang luar biasa dalam dunia kita. Hawa nafsu jika dikelola dengan baik akan melahirkan hasrat dan semangat, namun ketika hal itu tidak terkendali akan merusakkan banyak hal, baik diri kita sendiri maupun mereka yang berada dekat dengan kita.
1. 2.
Apa yang Anda pelajari dari nasihat Yakobus (4:1)? Apa hasrat diri Anda yang mungkin dapat merusak persahabatan Anda? Mengendalikan diri untuk tidak merusak persahabatan kita.
Pokok Doa:
Hari ke-29
HAWA NAFSU
Yakobus 4:1-10
Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?
Manusia bisa menjadi serigala bagi sesamanya karena hawa nafsu yang tidak mampu dikendalikan dengan baik. Hawa nafsu yang terkendali akan menjadi hasrat dan semangat untuk menggapai sesuatu, sedangkan hawa nafsu yang tidak ter(Yak. 4:1) kendali senantiasa akan menyebabkan banyak kerusakan. Prinsip “menang-kalah” acapkali memancing kita untuk memuaskan hawa nafsu kita. Saat itulah kita melupakan persahabatan dan pertalian kekerabatan yang mungkin sudah dibangun sekian lama demi untuk memuaskan hasrat diri kita. Hal yang muncul kemudian adalah sengketa dan pertengkaran di antara sahabat. Kondisi yang demikian mendorong penulis Surat Yakobus untuk memberikan peringatannya kepada setiap orang pada zamannya, tetapi juga kepada kita pada zaman sekarang. Pertengkaran dan perselisihan di antara kita acapkali terjadi karena kita tidak mampu mengendalikan hasrat kemanusiaan kita. Manusia selalu tergoda dan ingin menjadi “lebih” dibandingkan dengan manusia lainnya. Untuk semua itu tidak jarang kita melakukan apa pun, termasuk di dalamnya mengorbankan sahabat. Padahal kehilangan satu orang sahabat sudah terlalu banyak kerugiannya bagi kita, sementara mendapatkan seribu sahabat masih terlalu sedikit keuntungannya bagi kita. Semakin luas persahabatan dapat kita bangun bagi sebanyak mungkin orang di sekitar kita akan melahirkan keindahan yang luar biasa dalam dunia kita. Hawa nafsu jika dikelola dengan baik akan melahirkan hasrat dan semangat, namun ketika hal itu tidak terkendali akan merusakkan banyak hal, baik diri kita sendiri maupun mereka yang berada dekat dengan kita.
1. 2.
Apa yang Anda pelajari dari nasihat Yakobus (4:1)? Apa hasrat diri Anda yang mungkin dapat merusak persahabatan Anda? Mengendalikan diri untuk tidak merusak persahabatan kita.
Pokok Doa:
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



