
Hari ke-10
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Hari ke-10
UPAH PEMBERITA INJIL
2 Timotius 4:1-8
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan ....
Napoleon Bonaparte memiliki segalanya di dunia ini karena kedudukan dan kekayaannya. Menjelang akhir hidupnya dalam pengasingan di pulau St. Helena (1921), ia berkata, “Saya mati sebelum (2Tim. 4:8) waktunya, terlalu muda, dan tubuh saya akan dipulangkan ke bumi untuk menjadi makanan cacing. Begitulah nasib orang yang disebut Napoleon yang Agung!” Hanya orang yang hidupnya telah menjalankan tugas yang diberikan Tuhan yang dapat mengakhirinya dengan sukacita. Paulus tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi. Ia telah hidup melayani Tuhan, memberitakan Injil, dan menanggung banyak penderitaan. Namun di dalam suratnya kepada Timotius, ia sama sekali tidak menyesali hidupnya dan tidak mengeluh atas penderitaannya. Sebaliknya ia berkata, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran!” Melalui pernyataan ini Paulus telah menyaksikan bahwa penderitaan bukanlah kutukan atau halangan. Penderitaan karena Kristus justru kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan dan ketangguhan yang akan terbukti saat mahkota itu diberikan. Youth, kita tidak tahu berapa lama dan sesukar apa kita menjalani hidup di dunia ini. Namun saatnya akan tiba, kita akan mengakhirinya. Sikap Paulus di akhir hidupnya menunjukkan bahwa ia tidak gentar bahkan ia menyambut kematian dengan sukacita. Paulus bersukacita bukan semata karena ia akan mendapat hadiah yang kelihatan, melainkan sebuah penghargaan yang digambarkan bagai mahkota karena ia telah mengikuti kebenaran Tuhan. Itulah upah bagi mereka yang memberitakan Injil, hidup yang penuh sukacita sampai akhir hayat.
1. 2.
Mengapa Paulus tidak gentar menghadapi kematian? Apa yang Anda dapat lakukan agar tidak mengakhiri hidup seperti Napoleon? Orang percaya bersukacita menyambut kematian karena telah menjalankan tugas-Nya.
Pokok Doa:
Hari ke-10
UPAH PEMBERITA INJIL
2 Timotius 4:1-8
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan ....
Napoleon Bonaparte memiliki segalanya di dunia ini karena kedudukan dan kekayaannya. Menjelang akhir hidupnya dalam pengasingan di pulau St. Helena (1921), ia berkata, “Saya mati sebelum (2Tim. 4:8) waktunya, terlalu muda, dan tubuh saya akan dipulangkan ke bumi untuk menjadi makanan cacing. Begitulah nasib orang yang disebut Napoleon yang Agung!” Hanya orang yang hidupnya telah menjalankan tugas yang diberikan Tuhan yang dapat mengakhirinya dengan sukacita. Paulus tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi. Ia telah hidup melayani Tuhan, memberitakan Injil, dan menanggung banyak penderitaan. Namun di dalam suratnya kepada Timotius, ia sama sekali tidak menyesali hidupnya dan tidak mengeluh atas penderitaannya. Sebaliknya ia berkata, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran!” Melalui pernyataan ini Paulus telah menyaksikan bahwa penderitaan bukanlah kutukan atau halangan. Penderitaan karena Kristus justru kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan dan ketangguhan yang akan terbukti saat mahkota itu diberikan. Youth, kita tidak tahu berapa lama dan sesukar apa kita menjalani hidup di dunia ini. Namun saatnya akan tiba, kita akan mengakhirinya. Sikap Paulus di akhir hidupnya menunjukkan bahwa ia tidak gentar bahkan ia menyambut kematian dengan sukacita. Paulus bersukacita bukan semata karena ia akan mendapat hadiah yang kelihatan, melainkan sebuah penghargaan yang digambarkan bagai mahkota karena ia telah mengikuti kebenaran Tuhan. Itulah upah bagi mereka yang memberitakan Injil, hidup yang penuh sukacita sampai akhir hayat.
1. 2.
Mengapa Paulus tidak gentar menghadapi kematian? Apa yang Anda dapat lakukan agar tidak mengakhiri hidup seperti Napoleon? Orang percaya bersukacita menyambut kematian karena telah menjalankan tugas-Nya.
Pokok Doa:
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



