
Hari ke-11
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Hari ke-11
MEREKA TIDAK MALU
Kejadian 2:25
Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.
“Kekristenan turut dipersalahkan atas terjadinya kerusakan lingkungan hidup,” demikian kutipan orasi teolog Th. van den End. Apa alasan orang mengatakan begitu? Sebab, sejak kekristenan mun(Kej. 2:25) cul, relasi antara manusia dan alam berubah. Semula, manusia memandang alam di sekitarnya sebagai sesuatu yang “berpribadi”. Misalnya, pohon tertentu dianggap keramat sehingga diperlakukan dengan hormat. Relasi yang muncul adalah subjeksubjek. Namun, sejak kekristenan muncul, tidak ada lagi kepercayaan bahwa sesuatu di alam itu adalah sesuatu yang “berpribadi”, sehingga muncullah relasi subjek-objek. Alam, bahkan sesama manusia, diperlakukan sebagai objek. Dalam nas kita hari ini, ada dua hal penting: “telanjang” dan “tidak merasa malu”. Mengapa ketelanjangan tidak menimbulkan rasa malu? Untuk menjawabnya, kita perlu kembali pada keadaan saat penciptaan, di mana kedua manusia pertama itu memperlakukan satu sama lain sebagai subjek. Dalam situasi seperti itu, ada rasa kagum penuh hormat. Di situlah terbangun kejujuran, keinginan memberi diri secara penuh, perasaan aman, dan pengakuan. Youth, situasi yang terjadi saat ini sering kali tidak seperti itu. Manusia memandang sesamanya sebagai saingan, bahkan objek yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan subjektifnya. Sesama manusia dianggap sebagai pribadi yang tidak bisa dipercaya. Kelompok tertentu malah diperlakukan dengan rasa tidak hormat. Padahal pribadi yang bertubuh itu layak dikasihi sebab memiliki tubuh yang sama seperti kita.
1. 2.
Gambaran kehidupan seperti apa yang tampak dalam bacaan hari ini? Apa yang akan Anda lakukan terhadap sesama? Alam dan orang yang dieksploitasi sebagai objek.
Pokok Doa:
Hari ke-11
MEREKA TIDAK MALU
Kejadian 2:25
Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.
“Kekristenan turut dipersalahkan atas terjadinya kerusakan lingkungan hidup,” demikian kutipan orasi teolog Th. van den End. Apa alasan orang mengatakan begitu? Sebab, sejak kekristenan mun(Kej. 2:25) cul, relasi antara manusia dan alam berubah. Semula, manusia memandang alam di sekitarnya sebagai sesuatu yang “berpribadi”. Misalnya, pohon tertentu dianggap keramat sehingga diperlakukan dengan hormat. Relasi yang muncul adalah subjeksubjek. Namun, sejak kekristenan muncul, tidak ada lagi kepercayaan bahwa sesuatu di alam itu adalah sesuatu yang “berpribadi”, sehingga muncullah relasi subjek-objek. Alam, bahkan sesama manusia, diperlakukan sebagai objek. Dalam nas kita hari ini, ada dua hal penting: “telanjang” dan “tidak merasa malu”. Mengapa ketelanjangan tidak menimbulkan rasa malu? Untuk menjawabnya, kita perlu kembali pada keadaan saat penciptaan, di mana kedua manusia pertama itu memperlakukan satu sama lain sebagai subjek. Dalam situasi seperti itu, ada rasa kagum penuh hormat. Di situlah terbangun kejujuran, keinginan memberi diri secara penuh, perasaan aman, dan pengakuan. Youth, situasi yang terjadi saat ini sering kali tidak seperti itu. Manusia memandang sesamanya sebagai saingan, bahkan objek yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan subjektifnya. Sesama manusia dianggap sebagai pribadi yang tidak bisa dipercaya. Kelompok tertentu malah diperlakukan dengan rasa tidak hormat. Padahal pribadi yang bertubuh itu layak dikasihi sebab memiliki tubuh yang sama seperti kita.
1. 2.
Gambaran kehidupan seperti apa yang tampak dalam bacaan hari ini? Apa yang akan Anda lakukan terhadap sesama? Alam dan orang yang dieksploitasi sebagai objek.
Pokok Doa:
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



