
Hari ke-2
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Hari ke-2
BERHARGA SAMPAI AKHIR
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur ....
Lukas 23:50-56b
Seorang sukarelawan yang membantu evakuasi korban Tsunami Aceh-Nias menceritakan pengalamannya. Saat tiba di lokasi kejadian, ia masih (Luk. 23:53) sempat melihat sejumlah jenazah bergeletakan di jalan, di bawah reruntuhan gedung, dan juga di bawah jembatan sungai. Saat itu jumlah tenaga sukarelawan yang membantu masih sedikit sehingga tidak sebanding dengan jumlah korban. Ia melihat bagaimana sukarelawan lainnya melempar begitu saja jenazah yang ditemukannya ke atas truk. Ia bertanya dalam hati, “Kalau begitu caranya, apa bedanya manusia dengan daging sapi potong?” Ia lalu mendorong dan menginspirasi para sukarelawan yang ada untuk memperlakukan jenazah manusia secara bermartabat. Bacaan hari ini memberi teladan penting bagaimana kita seharusnya memperlakukan seorang manusia dengan tetap berharga sampai akhir. Ketika jenazah Yesus tampaknya dilupakan oleh para murid dan prajurit Romawi, seorang anggota Sanhedrin berinisiatif untuk menurunkan jenazah Yesus, mengapani dan menguburkan jenazah-Nya. Para wanita yang mengasihi Yesus bahkan menyiapkan rempah-rempah dan minyak mur untuk dibawa setelah Sabat usai. Youth, diri manusia sungguh berharga. Keberhargaan manusia itu bukan hanya ketika ia lahir dan berkarya. Ketika sudah meninggal pun, ia harus tetap diperlakukan secara bermartabat. Tubuhnya memang sudah tidak berdaya, namun ia tetap adalah ciptaan Tuhan yang mulia. Karena itulah, Yesus mau mati dan bangkit untuk pemulihan hidup manusia.
1. 2. Mengapa Yusuf meminta izin Pilatus untuk menurunkan mayat Yesus? Bagaimana upaya memperlakukan jenazah secara bermartabat pada masa kini? Para petugas di kamar jenazah dan di pemakaman.
Pokok Doa:
Hari ke-2
BERHARGA SAMPAI AKHIR
Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur ....
Lukas 23:50-56b
Seorang sukarelawan yang membantu evakuasi korban Tsunami Aceh-Nias menceritakan pengalamannya. Saat tiba di lokasi kejadian, ia masih (Luk. 23:53) sempat melihat sejumlah jenazah bergeletakan di jalan, di bawah reruntuhan gedung, dan juga di bawah jembatan sungai. Saat itu jumlah tenaga sukarelawan yang membantu masih sedikit sehingga tidak sebanding dengan jumlah korban. Ia melihat bagaimana sukarelawan lainnya melempar begitu saja jenazah yang ditemukannya ke atas truk. Ia bertanya dalam hati, “Kalau begitu caranya, apa bedanya manusia dengan daging sapi potong?” Ia lalu mendorong dan menginspirasi para sukarelawan yang ada untuk memperlakukan jenazah manusia secara bermartabat. Bacaan hari ini memberi teladan penting bagaimana kita seharusnya memperlakukan seorang manusia dengan tetap berharga sampai akhir. Ketika jenazah Yesus tampaknya dilupakan oleh para murid dan prajurit Romawi, seorang anggota Sanhedrin berinisiatif untuk menurunkan jenazah Yesus, mengapani dan menguburkan jenazah-Nya. Para wanita yang mengasihi Yesus bahkan menyiapkan rempah-rempah dan minyak mur untuk dibawa setelah Sabat usai. Youth, diri manusia sungguh berharga. Keberhargaan manusia itu bukan hanya ketika ia lahir dan berkarya. Ketika sudah meninggal pun, ia harus tetap diperlakukan secara bermartabat. Tubuhnya memang sudah tidak berdaya, namun ia tetap adalah ciptaan Tuhan yang mulia. Karena itulah, Yesus mau mati dan bangkit untuk pemulihan hidup manusia.
1. 2. Mengapa Yusuf meminta izin Pilatus untuk menurunkan mayat Yesus? Bagaimana upaya memperlakukan jenazah secara bermartabat pada masa kini? Para petugas di kamar jenazah dan di pemakaman.
Pokok Doa:
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



