Cover Media Cetak

young listener

young listener

Hari ke-15

Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Hari ke-15
MISKIN DI HADAPAN ALLAH
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Matius 5:1-12
Ada perbedaan antara nilai dan harga. Ada barang mahal, tetapi nilainya rendah. Ada barang murah, (Mat. 5:3) tetapi nilainya tinggi. Sebuah pena yang dijual di pinggir jalan sangat bernilai bagi seseorang karena pena itu mengingatkannya akan peristiwa yang membahagiakannya. Bagaimana dengan hidup seseorang? Tidak jauh berbeda. Seseorang bisa saja punya banyak harta dan berkuasa, harga dirinya tinggi di matanya sendiri, tetapi kalau hidupnya tanpa kasih dan penghargaan terhadap orang lain, nilai hidupnya menjadi rendah. Bagi Yesus, orang yang berbahagia ialah orang yang menyadari “nilai diri” ketimbang “harga diri”. Miskin di hadapan Allah adalah jalan hidup yang menyadari bahwa kehidupan berarti karena kehadiran dan pertolongan Allah di dalamnya. Orang yang miskin di hadapan Allah tidak pernah berhenti untuk percaya dan taat dalam segala kerendahan hati pada kekuasaan Allah. Miskin di hadapan Allah bukan berarti menjauhkan diri dari materi dan melepaskan harta milik, melainkan suatu kerendahan hati untuk menyadari bahwa hanya Allah yang kekal dan hanya kasih kepada-Nya dan kasih kepada sesama manusia yang harus menjadi prioritas utama dalam hidup. Youth, dosa diawali dengan pementingan diri dan merasa diri lebih ketimbang Allah. Kadang kemampuan seseorang dapat membutakan hati nuraninya sehingga ia begitu mudahnya menyepelekan Firman Allah dan merendahkan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Tidak ada kebahagiaan sejati jika orang memiliki sikap seperti ini.
1. 2. Apa arti “miskin di hadapan Allah”? Apa hambatan untuk menjadi “miskin di hadapan Allah”?
Pokok Doa:
Pertolongan Roh Kudus agar kita menjadi miskin di hadapan Allah.
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.