
15 Juli 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Kamis, 15 Juli 2010
MEMILIKI PENGHARAPAN Roma 5:3-5
Kasih itu ... mengharapkan segala sesuatu .... (1Kor. 13:7)
Seorang perempuan mengalami cacat tetap karena kecelakaan. Ia merasa hidupnya terlalu berat dan tanpa arti. Berkali-kali ia ingin bunuh diri. Suatu hari ia bertemu dengan seorang bijak yang menasihatinya: “Ibu, perjalanan hidup memang berat dan panjang, apalagi bila kita merasa sangat menderita. Kita juga tidak tahu kapan itu berakhir. Tapi saya belajar dari bandul jarum jam yang tekun berayun. Sekali, sekali lagi, sekali lagi, dan terusmenerus dijalaninya dengan tekun. Jangan melihat panjangnya dan beratnya, lakukan saja dengan tekun dan sukacita. Setiap hari bisa saja ada penderitaan, tetapi juga ada sukacita”. Orang percaya harus memiliki rencana yang jauh ke depan, tetapi juga keyakinan dan pengharapan. Ketika kita menjalani jalan panjang itu, baiklah kita bersikap sederhana: ayunkan langkah hari ini, istirahatlah malam hari, esok bangun dan sekali lagi ayunkan langkah dengan sukacita baru. Kita perlu belajar menjalani hidup dengan tekun dan bersyukur, berserah kepada Tuhan, dan berharap hari ini dapat melangkah dengan pertolongan dan berkatNya. Pepatah Cina mengajarkan hal itu. “Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama.” Ya, tanpa langkah pertama, perjalanan panjang tidak akan pernah tercapai, bahkan tidak pernah akan dimulai. Tiap langkah yang kecil adalah bagian dari perjalanan betapa pun panjangnya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kita berdoa, “Berilah kami hari ini, makanan kami yang secukupnya.” Bukankah kalau hari ini cukup, semua hari menjadi cukup?
REFLEKSI: Tekun melangkah dengan pengharapan yang teguh.
Mzm. 37:1-18; Yos. 3:14-4:7; Rm. 12:1-8; Mat. 26:1-16
Kamis, 15 Juli 2010
MEMILIKI PENGHARAPAN Roma 5:3-5
Kasih itu ... mengharapkan segala sesuatu .... (1Kor. 13:7)
Seorang perempuan mengalami cacat tetap karena kecelakaan. Ia merasa hidupnya terlalu berat dan tanpa arti. Berkali-kali ia ingin bunuh diri. Suatu hari ia bertemu dengan seorang bijak yang menasihatinya: “Ibu, perjalanan hidup memang berat dan panjang, apalagi bila kita merasa sangat menderita. Kita juga tidak tahu kapan itu berakhir. Tapi saya belajar dari bandul jarum jam yang tekun berayun. Sekali, sekali lagi, sekali lagi, dan terusmenerus dijalaninya dengan tekun. Jangan melihat panjangnya dan beratnya, lakukan saja dengan tekun dan sukacita. Setiap hari bisa saja ada penderitaan, tetapi juga ada sukacita”. Orang percaya harus memiliki rencana yang jauh ke depan, tetapi juga keyakinan dan pengharapan. Ketika kita menjalani jalan panjang itu, baiklah kita bersikap sederhana: ayunkan langkah hari ini, istirahatlah malam hari, esok bangun dan sekali lagi ayunkan langkah dengan sukacita baru. Kita perlu belajar menjalani hidup dengan tekun dan bersyukur, berserah kepada Tuhan, dan berharap hari ini dapat melangkah dengan pertolongan dan berkatNya. Pepatah Cina mengajarkan hal itu. “Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama.” Ya, tanpa langkah pertama, perjalanan panjang tidak akan pernah tercapai, bahkan tidak pernah akan dimulai. Tiap langkah yang kecil adalah bagian dari perjalanan betapa pun panjangnya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan kita berdoa, “Berilah kami hari ini, makanan kami yang secukupnya.” Bukankah kalau hari ini cukup, semua hari menjadi cukup?
REFLEKSI: Tekun melangkah dengan pengharapan yang teguh.
Mzm. 37:1-18; Yos. 3:14-4:7; Rm. 12:1-8; Mat. 26:1-16
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



