Cover Media Cetak

young listener

young listener

11 Juli 2010

Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 11 Juli 2010
JIWA BESAR Matius 5:11-12
Kasih itu ... tidak menyimpan kesalahan orang lain. (1Kor. 13:5)
Saat Abraham Lincoln berkampanye untuk meraih kursi kepresidenan, Edwin Stanton adalah musuh politik terbesarnya. Stanton amat membenci Lincoln dan menggunakan segala cara untuk menghina Lincoln di depan umum. Namun ketika Lincoln terpilih menjadi presiden, “sepertinya” ia membuat kesalahan yang diherankan oleh banyak temannya. Ia justru memilih Stanton menjadi Sekretaris Urusan Perang. Pastilah kelompok yang dekat dengan presiden menjadi heboh dan menganggap hal itu aneh dan salah pilih. Ketika Abraham Lincoln kemudian tewas terbunuh, rakyat Amerika pun berkabung. Banyak pernyataan pujian yang tulus bagi Lincoln yang memang adalah salah satu presiden terbaik. Pernyataan terbaik dan tulus justru datang dari Stanton, bekas musuh politiknya, tetapi juga pembantu terdekatnya. Sambil berdiri di tepi peti jenazah Lincoln, Stanton mengucapkan kesaksiannya dengan sungguh-sungguh: “Ia adalah orang terbesar yang pernah saya kenal dari dekat. Kami pernah amat berbeda. Tapi saya mengakui betapa ia memiliki jiwa besar dan sikap yang demikian menghargai orang lain yang berbeda”. Dalam kebersamaan dan kasih, jiwa besar disebut Paulus sebagai salah satu tanda kasih. Jiwa besar tidak terpengaruh oleh perbedaan dan kritik, bahkan oleh kecaman tajam sekalipun. Orang yang berjiwa besar masih dapat menampung sesuatu yang tidak dapat lagi ditampung oleh orang lain dalam jiwanya. Ia tidak terburu-buru meruntuhkan “jembatan” yang kelak justru dibutuhkannya untuk menyeberangi sesuatu.
REFLEKSI: Orang berjiwa besar memberi tempat di hatinya untuk orang lain.
Ul. 30:9-14; Mzm. 25:1-10; Kol. 1:1-14; Luk. 10:25-37
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.