
10 Juli 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Sabtu, 10 Juli 2010
MARAH! MARAH! MARAH! 1 Korintus 13:5
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Ef. 4:26)
Mengapa orang marah? Karena dilecehkan, tersinggung, diperlakukan tidak adil, dsb. Namun ada juga faktor yang dapat membuat orang potensial menjadi marah. Faktor itu menjadi makin menggejala ketika kondisi hidup, usia, dan kesehatan juga mulai menjadi faktor. Beberapa hal dapat merangsang dan mengondisikan orang untuk “siap” atau “matang” marah, misalnya, kurang penghargaan, perlakuan buruk, kekecewaan, karier yang terhambat, kebutuhan hidup yang kurang terpenuhi, jadwal yang penuh, kelelahan lahir-batin, dan tuntutan dari lingkungan yang berlebihan. Kalau orang tidak mempunyai kemampuan mengelola emosi, tidak punya saluran komunikasi dan ketahanan iman, dipastikan akan mengidap penyakit “matang marah”. Hanya dibutuhkan satu faktor pemicu kecil untuk meledakkan kemarahan yang besar. Selain dapat keluar dalam bentuk “meledak”, kemarahan juga dapat keluar dalam bentuk “mengalir”. Wujudnya: sikap dingin, apatis, agresif, kata-kata kasar, suka menyakiti orang lain tanpa alasan, menderita kepahitan hidup, pembenci, dan kebekuan rohani. Paulus mengingatkan bahwa salah satu tanda kasih adalah tidak pemarah. Kemarahan adalah emosi yang berbahaya dan merusak hidup kita sendiri. Daud, yang juga mengalami pergumulan yang memungkinkannya jatuh dalam kemarahan, menulis: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan” (Mzm. 37:8). Hatihati, periksa diri kita, dan jangan kebablasan.
REFLEKSI: Kuasai amarah jika tidak ingin dikuasai angkara murka.
Mzm. 20, 21; Ul. 34:1-12; Rm. 10:14-21; Mat. 24:32-51
Sabtu, 10 Juli 2010
MARAH! MARAH! MARAH! 1 Korintus 13:5
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Ef. 4:26)
Mengapa orang marah? Karena dilecehkan, tersinggung, diperlakukan tidak adil, dsb. Namun ada juga faktor yang dapat membuat orang potensial menjadi marah. Faktor itu menjadi makin menggejala ketika kondisi hidup, usia, dan kesehatan juga mulai menjadi faktor. Beberapa hal dapat merangsang dan mengondisikan orang untuk “siap” atau “matang” marah, misalnya, kurang penghargaan, perlakuan buruk, kekecewaan, karier yang terhambat, kebutuhan hidup yang kurang terpenuhi, jadwal yang penuh, kelelahan lahir-batin, dan tuntutan dari lingkungan yang berlebihan. Kalau orang tidak mempunyai kemampuan mengelola emosi, tidak punya saluran komunikasi dan ketahanan iman, dipastikan akan mengidap penyakit “matang marah”. Hanya dibutuhkan satu faktor pemicu kecil untuk meledakkan kemarahan yang besar. Selain dapat keluar dalam bentuk “meledak”, kemarahan juga dapat keluar dalam bentuk “mengalir”. Wujudnya: sikap dingin, apatis, agresif, kata-kata kasar, suka menyakiti orang lain tanpa alasan, menderita kepahitan hidup, pembenci, dan kebekuan rohani. Paulus mengingatkan bahwa salah satu tanda kasih adalah tidak pemarah. Kemarahan adalah emosi yang berbahaya dan merusak hidup kita sendiri. Daud, yang juga mengalami pergumulan yang memungkinkannya jatuh dalam kemarahan, menulis: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan” (Mzm. 37:8). Hatihati, periksa diri kita, dan jangan kebablasan.
REFLEKSI: Kuasai amarah jika tidak ingin dikuasai angkara murka.
Mzm. 20, 21; Ul. 34:1-12; Rm. 10:14-21; Mat. 24:32-51
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



