Cover Media Cetak

young listener

young listener

9 Juli 2010

Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Jumat, 9 Juli 2010
NARSISME 1 Korintus 13:5
Manusia akan mencintai dirinya sendiri .... (2Tim. 3:2)
Dalam mitologi Yunani, ada seorang pemuda –Narsisus— yang amat tampan sehingga seorang bidadari bernama Ekho tergila-gila padanya. Namun cinta Ekho tidak terbalas, dan ia memohon kepada Dewi Nemesis untuk membalas sakit hatinya. Suatu hari setelah berburu dan lelah, Narsisus hendak minum air dari sebuah telaga. Ketika ia membungkuk ke air telaga, ia melihat bayang-bayang seorang pemuda yang amat tampan. Ia demikian terpesona kepada bayang-bayang itu sehingga ia ingin menjangkaunya. Namun tiap kali tangannya menjangkau air, bayang-bayang itu lenyap. Dijangkau lagi, lenyap lagi. Demikian tergila-gilanya sehingga ia menjadi lelah, stres, dan merana. Ia mati karena mencintai bayangbayangnya sendiri. Cinta diri secara berlebihan seperti itu disebut narsisme. Paulus memperingatkan agar jemaat Korintus tidak terjebak dalam sikap cinta diri dan sombong. Orang narsis cenderung tidak bahagia karena ia hidup dalam kekaguman bayang-bayang diri. Ia memilih-milih kawan, tetapi akibatnya ia dijauhi. Ia juga cenderung terkena “sindrom primadona” –perasaan subjektif yang merasa diri sebagai primadona yang selalu haus penampilan, pujian, dan dikagumi. Ketika tidak dipuji, ia tidak tahan, merana, dan marah. Sayang sekali bahwa kelebihan justru menjadi sumber malapetaka karena salah mengelola anugerah. Penyakit ini, seperti di jemaat Korintus, menjangkiti banyak orang yang justru memiliki kelebihan tetapi tidak terdidik untuk memiliki sikap rendah hati. Anak Tuhan seharusnya tidak berkarakter narsistis.
REFLEKSI: Jangan terjerat dalam sikap cinta diri.
Mzm. 16, 17; Ul. 31:7-13, 24,
32:1-4; Rm. 10:1-13; Mat. 24:15-31
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.