
8 Juli 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Kamis, 8 Juli 2010
JANGAN SOMBONG Amsal 6:16-19
Kasih itu ... tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (1Kor. 13:4)
Winston Churchill adalah negarawan yang membawa Inggris keluar dari banyak kesulitan besar. Namun sebelum menjadi orang besar , ia menjalani masa kecilnya dengan segala kesederhanaan. Ketika membuat kesalahan dan kegagalan, ia berusaha dengan tekun memperbaikinya kembali sampai berhasil. Orang secemerlang Churchill ternyata pernah tidak naik kelas. Ketika ditanya bagaimana pemahamannya tentang “ke-tidaknaik-an”-nya itu, ia menjawab, “Ketika itu saya menghabiskan waktu dua tahun untuk mempelajari materi di kelas yang sama.” Apakah itu sebuah kegagalan? “Bukan, saya memiliki dua kali kesempatan untuk membuatnya benar.” Para pejuang kehidupan yang tekun dan rendah hati memiliki cara dan sudut pandang lain. Mereka melihat kehidupan sebagai suatu mata rantai pergumulan. Kegagalan demi kegagalan hanyalah sebuah anak tangga menuju keberhasilan. Dengan tekun mereka menapakinya sampai berhasil. Ketika sudah sampai di puncak, mereka tetap mengenakan kesederhanaan sikap. Orang percaya seharusnya memiliki kerendahan hati. Tidak perlu merasa diri sebagai yang terbaik dan merendahkan orang lain. Jemaat Korintus diingatkan oleh Paulus untuk memiliki sifat dan sikap ini. Orang boleh saja punya karunia luar biasa, tetapi hal itu harus diabdikan untuk melayani dan membangun kehidupan bersama. Selain itu, jangan mengecilkan arti karunia yang juga dimiliki orang lain, betapa pun sederhananya.
REFLEKSI: Sombong atas sebuah karya sebenarnya memperlihatkan kegagalan menilai diri.
Mzm. 18:1-20; Ul. 3:18-28; Rm. 9:19-33; Mat. 24:1-14
Kamis, 8 Juli 2010
JANGAN SOMBONG Amsal 6:16-19
Kasih itu ... tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (1Kor. 13:4)
Winston Churchill adalah negarawan yang membawa Inggris keluar dari banyak kesulitan besar. Namun sebelum menjadi orang besar , ia menjalani masa kecilnya dengan segala kesederhanaan. Ketika membuat kesalahan dan kegagalan, ia berusaha dengan tekun memperbaikinya kembali sampai berhasil. Orang secemerlang Churchill ternyata pernah tidak naik kelas. Ketika ditanya bagaimana pemahamannya tentang “ke-tidaknaik-an”-nya itu, ia menjawab, “Ketika itu saya menghabiskan waktu dua tahun untuk mempelajari materi di kelas yang sama.” Apakah itu sebuah kegagalan? “Bukan, saya memiliki dua kali kesempatan untuk membuatnya benar.” Para pejuang kehidupan yang tekun dan rendah hati memiliki cara dan sudut pandang lain. Mereka melihat kehidupan sebagai suatu mata rantai pergumulan. Kegagalan demi kegagalan hanyalah sebuah anak tangga menuju keberhasilan. Dengan tekun mereka menapakinya sampai berhasil. Ketika sudah sampai di puncak, mereka tetap mengenakan kesederhanaan sikap. Orang percaya seharusnya memiliki kerendahan hati. Tidak perlu merasa diri sebagai yang terbaik dan merendahkan orang lain. Jemaat Korintus diingatkan oleh Paulus untuk memiliki sifat dan sikap ini. Orang boleh saja punya karunia luar biasa, tetapi hal itu harus diabdikan untuk melayani dan membangun kehidupan bersama. Selain itu, jangan mengecilkan arti karunia yang juga dimiliki orang lain, betapa pun sederhananya.
REFLEKSI: Sombong atas sebuah karya sebenarnya memperlihatkan kegagalan menilai diri.
Mzm. 18:1-20; Ul. 3:18-28; Rm. 9:19-33; Mat. 24:1-14
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



