
4 Juli 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 4 Juli 2010
KASIH, TANDA KEMURIDAN Yohanes 13:31–35
“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh. 13:35)
Cerita berikut ini sebuah anekdot yang mengandung pesan yang sangat serius. Tujuh ratus tahun yang lalu, Kaisar Romawi Frederik II membuat sebuah eksperimen untuk mengetahui bahasa apa yang akan dipakai anak-anak kalau mereka tidak pernah mendengar sepatah kata pun. Apakah mereka akan berbicara dengan bahasa Yahudi, Yunani, Latin, atau bahasa orang tuanya? Ia mengumpulkan sejumlah bayi dan memerintahkan para perawat untuk memberi makan dan merawat mereka. Namun, para perawat itu dilarang mengeluarkan sepatah kata pun. Apa yang terjadi kemudian? Eksperimen itu gagal karena semua bayi itu meninggal. Meskipun hanya sebuah anekdot, cerita itu berdiri kokoh di atas sebuah prinsip bahwa bagi manusia, kasih sayang adalah kebutuhan yang amat mendasar. Anak yang kehilangan kasih sayang dari lingkungan dan keluarganya akan gagal mengembangkan kepribadian yang manusiawi. Banyak manusia yang apatis, menarik diri, bersikap asosial, agresif, bermusuhan, dan brutal – semua ini ada hubungannya dengan pengalaman penolakan dan ketiadaan kasih. Yesus mengajarkan bahwa Allah telah terlebih dulu mengasihi kita. Karena itu, seperti Dia telah mengasihi kita, kita wajib menjawab kasih itu. Bagi anak-anak-Nya, kasih bukan hanya sebuah suruhan, atau perintah, tetapi bahkan sebuah keniscayaan dan tanda kemuridan. Sebab, kalau kita tidak mengasihi, benarkah kita patut disebut sebagai murid-Nya?
REFLEKSI: Kasih sayang sudah dimulai Bapa, kita harus meneruskannya.
Yes. 66:10-14; Mzm. 66:1-9; Gal. 6:(1-6), 7-16; Luk. 10:1-11, 16-20
Minggu, 4 Juli 2010
KASIH, TANDA KEMURIDAN Yohanes 13:31–35
“Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh. 13:35)
Cerita berikut ini sebuah anekdot yang mengandung pesan yang sangat serius. Tujuh ratus tahun yang lalu, Kaisar Romawi Frederik II membuat sebuah eksperimen untuk mengetahui bahasa apa yang akan dipakai anak-anak kalau mereka tidak pernah mendengar sepatah kata pun. Apakah mereka akan berbicara dengan bahasa Yahudi, Yunani, Latin, atau bahasa orang tuanya? Ia mengumpulkan sejumlah bayi dan memerintahkan para perawat untuk memberi makan dan merawat mereka. Namun, para perawat itu dilarang mengeluarkan sepatah kata pun. Apa yang terjadi kemudian? Eksperimen itu gagal karena semua bayi itu meninggal. Meskipun hanya sebuah anekdot, cerita itu berdiri kokoh di atas sebuah prinsip bahwa bagi manusia, kasih sayang adalah kebutuhan yang amat mendasar. Anak yang kehilangan kasih sayang dari lingkungan dan keluarganya akan gagal mengembangkan kepribadian yang manusiawi. Banyak manusia yang apatis, menarik diri, bersikap asosial, agresif, bermusuhan, dan brutal – semua ini ada hubungannya dengan pengalaman penolakan dan ketiadaan kasih. Yesus mengajarkan bahwa Allah telah terlebih dulu mengasihi kita. Karena itu, seperti Dia telah mengasihi kita, kita wajib menjawab kasih itu. Bagi anak-anak-Nya, kasih bukan hanya sebuah suruhan, atau perintah, tetapi bahkan sebuah keniscayaan dan tanda kemuridan. Sebab, kalau kita tidak mengasihi, benarkah kita patut disebut sebagai murid-Nya?
REFLEKSI: Kasih sayang sudah dimulai Bapa, kita harus meneruskannya.
Yes. 66:10-14; Mzm. 66:1-9; Gal. 6:(1-6), 7-16; Luk. 10:1-11, 16-20
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



