Cover Media Cetak

young listener

young listener

9 Mei 2010

Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 9 Mei 2010
TIDAK PERLU IRI 1 Samuel 18:6-14
Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud. (1Sam. 18:9)
Iri hati bersumber dari ketidakpuasan dengan apa yang telah dimiliki. Seorang yang iri terus menyoroti apa yang tidak ada pada dirinya atau apa yang tidak dimilikinya. Orang yang iri hati juga senantiasa melihat apa yang ada di tangan orang lain. Filsuf Yunani Sokrates mengatakan, “Iri hati adalah putri dari kesombongan, pencipta dari pembunuhan dan balas dendam, ibu dari kejahatan rahasia, penyiksa abadi dari kebajikan. Iri hati adalah cairan kotor dari jiwa; bisa, racun yang menggerogoti tubuh dan mengeringkan tulang.” Raja Saul menjadi sangat marah ketika ia menyaksikan sendiri bagaimana umat Israel menyambut Daud. Daud mendapat sambutan yang luar biasa sepulang dari pertempuran melawan Filistin. Umat Israel mengelu-elukan Daud karena keberhasilannya. Namun, keberhasilan Daud tidak disambut dengan sukacita oleh Saul. Sejak itu Saul selalu mendengki Daud (1Sam.18:9). Dalam suasana hati yang dikuasai kedengkian itu, Saul berkali-kali berusaha membunuh Daud. Bersyukur itu tidak harus selalu didasarkan pada keberhasilan diri kita sendiri. Bersyukur secara kristiani juga didasarkan pada kebaikan-kebaikan yang dialami orang lain. Dengan syukur seperti itu, kita akan terhindar dari rasa iri yang amat berbahaya bagi orang lain maupun diri kita sendiri.
REFLEKSI: Sudahkah kita bersyukur kepada Kristus atas keberhasilan orang lain?
Kis. 16:9-15; Mzm. 67; Why. 21:10, 22-22:5; Yoh. 5:1-9
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.