
8 Mei 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Sabtu, 8 Mei 2010
SDM YANG BAIK 1 Samuel 1:24-28
“Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” (1Sam. 1:28)
Suatu ketika seorang remaja diantar orangtuanya menghadap ke pendetanya. “Pak Pendeta, kami serahkan anak kami ini untuk masuk sekolah pendeta.” Sang pendeta senang dan bertanya, “Wah, saya sangat menghargai niat Bapak dan Ibu, tetapi ngomong-ngomong mengapa kok anak yang ini yang diserahkan untuk masuk sekolah pendeta?” Mereka menjelaskan, “Sebab kami bingung. Anak ini tidak diterima di mana-mana, sampai capek deh kami mencari tempat kuliahnya. Dan lagi, anak kami yang ini rada bandel, Pak. Semoga saja ia nanti berubah kalau sudah sekolah pendeta.” Dalam bacaan hari ini, kita menyaksikan betapa Hana bersedia menyerahkan Samuel, anak yang didapatnya dengan doa dan air mata. Ia menyerahkan Samuel kepada Tuhan sejak anak itu cerai susu. Itu berarti Samuel masih amat kecil dan sedang lucu-lucunya. Hana ingin mempersembahkan Samuel sebagai persembahan yang memang dikhususkan kepada Allah. Hana tidak ingin menahan-nahan dan juga tidak ingin memberikan sisa-sisa kepada Tuhan. Pekerjaan Allah di dunia ini memerlukan sumber daya manusia yang dipersembahkan secara khusus kepada-Nya. Gereja memerlukan sumber daya manusia yang baik untuk menjadi pemimpin dan pelayan. Karena itu, kalau kita bisa memberi yang terbaik, mengapa memberi yang sisa-sisa?
REFLEKSI: Sudahkah kita mempersembahkan SDM yang terbaik kepada Tuhan?
Mzm. 75, 76; Im. 23:23-44; 2Tes. 3:1-18; Mat. 7:13-21
Sabtu, 8 Mei 2010
SDM YANG BAIK 1 Samuel 1:24-28
“Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.” (1Sam. 1:28)
Suatu ketika seorang remaja diantar orangtuanya menghadap ke pendetanya. “Pak Pendeta, kami serahkan anak kami ini untuk masuk sekolah pendeta.” Sang pendeta senang dan bertanya, “Wah, saya sangat menghargai niat Bapak dan Ibu, tetapi ngomong-ngomong mengapa kok anak yang ini yang diserahkan untuk masuk sekolah pendeta?” Mereka menjelaskan, “Sebab kami bingung. Anak ini tidak diterima di mana-mana, sampai capek deh kami mencari tempat kuliahnya. Dan lagi, anak kami yang ini rada bandel, Pak. Semoga saja ia nanti berubah kalau sudah sekolah pendeta.” Dalam bacaan hari ini, kita menyaksikan betapa Hana bersedia menyerahkan Samuel, anak yang didapatnya dengan doa dan air mata. Ia menyerahkan Samuel kepada Tuhan sejak anak itu cerai susu. Itu berarti Samuel masih amat kecil dan sedang lucu-lucunya. Hana ingin mempersembahkan Samuel sebagai persembahan yang memang dikhususkan kepada Allah. Hana tidak ingin menahan-nahan dan juga tidak ingin memberikan sisa-sisa kepada Tuhan. Pekerjaan Allah di dunia ini memerlukan sumber daya manusia yang dipersembahkan secara khusus kepada-Nya. Gereja memerlukan sumber daya manusia yang baik untuk menjadi pemimpin dan pelayan. Karena itu, kalau kita bisa memberi yang terbaik, mengapa memberi yang sisa-sisa?
REFLEKSI: Sudahkah kita mempersembahkan SDM yang terbaik kepada Tuhan?
Mzm. 75, 76; Im. 23:23-44; 2Tes. 3:1-18; Mat. 7:13-21
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



