
10 April 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Sabtu, 10 April 2010
AKAR PAHIT Rut 1:19–22
“... sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.” (Rut. 1:20)
Orang cenderung terbelenggu oleh kesedihan dan kegagalan di masa lampau. Akibatnya mereka tidak mampu menyikapi realita kehidupan dengan sikap yang positif. Mereka juga gagal mengucap syukur untuk hal-hal yang tampaknya tidak berarti, padahal sebenarnya sarat nilai. Sesampainya di Betlehem, Naomi menunjukkan keadaan dirinya yang dipenuhi oleh akar pahit selama ia merantau di Moab. Ia tidak ingin dipanggil “Naomi” tetapi “Mara”, artinya: yang pahit. Sangat mengejutkan bahwa dari mulut Naomi juga keluar suatu ungkapan yang tampaknya jauh dari sikap iman: “Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku”. Naomi tampaknya tidak melihat sama sekali kebaikan Allah yang dinyatakan di dalam kasih Rut, menantunya. Saat dipenuhi akar pahit, kita sering menjadi buta secara rohani. Padahal sikap iman justru mengajak kita untuk hidup di masa kini dan meresponsnya secara tepat sehingga kita mampu bersyukur kepada Allah di tengah realita yang pahit. Selama masih dipenuhi akar pahit, hal yang akan kita ungkapkan adalah keluhkesah dan kekesalan yang pernah kita alami. Akar pahit adalah penghalang mata iman sehingga kita menjadi buta untuk melihat karya keselamatan Allah. Akibatnya, kita tidak mampu menyadari bahwa di saat kini sebenarnya Allah telah merencanakan karyaNya yang indah. Karena itu, singkirkan segera akar pahit masa lalu Anda dengan menyambut anugerah keselamatan Allah.
DOA: Ya Allah, ampunilah kami karena kami terus-menerus hidup dalam kepahitan masa lalu. Pulihkanlah hidup kami dengan kasih-Mu. Amin.
Mzm. 145; Kel. 13:17-14:4; 2Kor. 4:16-5:10; Mrk. 12:18-27
Sabtu, 10 April 2010
AKAR PAHIT Rut 1:19–22
“... sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.” (Rut. 1:20)
Orang cenderung terbelenggu oleh kesedihan dan kegagalan di masa lampau. Akibatnya mereka tidak mampu menyikapi realita kehidupan dengan sikap yang positif. Mereka juga gagal mengucap syukur untuk hal-hal yang tampaknya tidak berarti, padahal sebenarnya sarat nilai. Sesampainya di Betlehem, Naomi menunjukkan keadaan dirinya yang dipenuhi oleh akar pahit selama ia merantau di Moab. Ia tidak ingin dipanggil “Naomi” tetapi “Mara”, artinya: yang pahit. Sangat mengejutkan bahwa dari mulut Naomi juga keluar suatu ungkapan yang tampaknya jauh dari sikap iman: “Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku”. Naomi tampaknya tidak melihat sama sekali kebaikan Allah yang dinyatakan di dalam kasih Rut, menantunya. Saat dipenuhi akar pahit, kita sering menjadi buta secara rohani. Padahal sikap iman justru mengajak kita untuk hidup di masa kini dan meresponsnya secara tepat sehingga kita mampu bersyukur kepada Allah di tengah realita yang pahit. Selama masih dipenuhi akar pahit, hal yang akan kita ungkapkan adalah keluhkesah dan kekesalan yang pernah kita alami. Akar pahit adalah penghalang mata iman sehingga kita menjadi buta untuk melihat karya keselamatan Allah. Akibatnya, kita tidak mampu menyadari bahwa di saat kini sebenarnya Allah telah merencanakan karyaNya yang indah. Karena itu, singkirkan segera akar pahit masa lalu Anda dengan menyambut anugerah keselamatan Allah.
DOA: Ya Allah, ampunilah kami karena kami terus-menerus hidup dalam kepahitan masa lalu. Pulihkanlah hidup kami dengan kasih-Mu. Amin.
Mzm. 145; Kel. 13:17-14:4; 2Kor. 4:16-5:10; Mrk. 12:18-27
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



