
9 April 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Jumat, 9 April 2010
KASIH DAN IMAN Rut 1:15–18
“... ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, ... dan Allahmulah Allahku ....” (Rut 1:16)
Kasih yang bersyarat selalu membutuhkan alasan-alasan yang sangat memadai jika ingin tetap eksis. Sebaliknya, kasih yang tak bersyarat selalu mengutamakan kualitas relasi, kebersamaan, dan kesetiaan –walau untuk itu orang harus berkorban. Kasih tak bersyarat tidak pernah terputus. Rut mengungkapkan kasihnya kepada Naomi: “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi”. Rut berhasil melampaui semua kepentingan dirinya maupun kepentingan keluarga besarnya di Moab. Bahkan kasihnya yang tanpa syarat itu didasari oleh iman yang hidup kepada Allah sehingga ia mampu berkata kepada Naomi: “Allahmulah Allahku”. Pada mulanya Rut adalah seorang perempuan yang lahir dari lingkungan dunia kafir. Ia tidak pernah mengenal Allah yang hidup. Namun, ia memiliki kasih yang tak bersyarat dan iman yang begitu hidup. Walau ia telah kehilangan suami dan tidak dikaruniai seorang anak pun, ia tidak meninggalkan Naomi. Lebih dari itu, Rut begitu teguh mengasihi Naomi dan mengekspresikan imannya kepada Allah Israel. Dalam diri Rut terdapat jalinan yang sangat erat antara kasih dan iman. Kasih tak bersyaratnya lahir dari imannya kepada Allah yang hidup. Iman yang hidup tidaklah mungkin dinyatakan dalam kasih yang bersyarat. Pertanyaannya, apakah kehidupan sehari-hari kita senantiasa ditandai oleh kasih yang tak bersyarat, yaitu kasih yang mau berkorban dan mengutamakan kesetiaan kepada orangorang di sekitar kita?
DOA: Kristus, ajarlah kami senantiasa akan kasih-Mu yang tanpa syarat. Amin.
Mzm. 136; Kel. 13:1-2, 11-16; 1Kor. 15:51-58; Luk. 24:1-12
Jumat, 9 April 2010
KASIH DAN IMAN Rut 1:15–18
“... ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, ... dan Allahmulah Allahku ....” (Rut 1:16)
Kasih yang bersyarat selalu membutuhkan alasan-alasan yang sangat memadai jika ingin tetap eksis. Sebaliknya, kasih yang tak bersyarat selalu mengutamakan kualitas relasi, kebersamaan, dan kesetiaan –walau untuk itu orang harus berkorban. Kasih tak bersyarat tidak pernah terputus. Rut mengungkapkan kasihnya kepada Naomi: “ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi”. Rut berhasil melampaui semua kepentingan dirinya maupun kepentingan keluarga besarnya di Moab. Bahkan kasihnya yang tanpa syarat itu didasari oleh iman yang hidup kepada Allah sehingga ia mampu berkata kepada Naomi: “Allahmulah Allahku”. Pada mulanya Rut adalah seorang perempuan yang lahir dari lingkungan dunia kafir. Ia tidak pernah mengenal Allah yang hidup. Namun, ia memiliki kasih yang tak bersyarat dan iman yang begitu hidup. Walau ia telah kehilangan suami dan tidak dikaruniai seorang anak pun, ia tidak meninggalkan Naomi. Lebih dari itu, Rut begitu teguh mengasihi Naomi dan mengekspresikan imannya kepada Allah Israel. Dalam diri Rut terdapat jalinan yang sangat erat antara kasih dan iman. Kasih tak bersyaratnya lahir dari imannya kepada Allah yang hidup. Iman yang hidup tidaklah mungkin dinyatakan dalam kasih yang bersyarat. Pertanyaannya, apakah kehidupan sehari-hari kita senantiasa ditandai oleh kasih yang tak bersyarat, yaitu kasih yang mau berkorban dan mengutamakan kesetiaan kepada orangorang di sekitar kita?
DOA: Kristus, ajarlah kami senantiasa akan kasih-Mu yang tanpa syarat. Amin.
Mzm. 136; Kel. 13:1-2, 11-16; 1Kor. 15:51-58; Luk. 24:1-12
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



