
15 Maret 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Senin, 15 Maret 2010
BERANI AMBIL RISIKO Lukas 23:50-56a
“... ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, dimana belum pernah dibaringkan mayat.” (Luk. 23:53)
Takut! Itulah perasaan yang sedang dialami semua murid Tuhan Yesus ketika Ia dianiaya. Dalam suasana ketakutan ini, hadirlah Yusuf dari Arimatea. Ia menghadap Pilatus untuk meminta jenazahNya. Statusnya sebagai anggota Majelis Besar tidak merintanginya untuk menurunkan jenazah Tuhan Yesus dan meletakkannya di kuburan yang masih baru. Sidang yang telah memutuskan untuk menyalibkan Tuhan Yesus tidak menyurutkan langkah Yusuf untuk tetap setia kepada Tuhan Yesus. Kisah Yusuf dari Arimatea sebagai pengikut Tuhan Yesus memang tidak pernah diceritakan. Namun, ia menunjukkan kemuridannya dengan memberikan kuburan yang masih baru untuk Tuhan Yesus dan ia menantikan Kerajaan Allah. Ia memiliki sikap yang berbeda dengan rekan-rekannya yang juga merindukan kedatangan Kerajan Allah sebab ia bersedia membuka hatinya untuk mengenal Tuhan Yesus. Ketika ia bersedia membuka hatinya untuk mengenal Tuhan Yesus, ia menempatkan rasa takutnya di bawah kerinduannya untuk melayani Tuhan Yesus. Hidup di tengah dunia ini memang sering diliputi oleh rasa takut. Kita perlu belajar dari Yusuf. Ia tidak bombastis menjadi murid Tuhan Yesus. Ia menunjukkan aksi yang nyata. Ia takut, tetapi ketakutannya tidak membuatnya pasrah. Ia justru melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Jika saat ini kita sedang takut, mari lakukan saja apa yang menjadi bagian kita sebaik mungkin.
REFLEKSI: Daripada tidak berbuat apa-apa, lebih baik berbuat apa yang kita bisa lakukan.
Mzm. 89:1-18; Kej. 49:1-28; 1Kor. 10:14-11:1; Mrk. 7:24-37
Senin, 15 Maret 2010
BERANI AMBIL RISIKO Lukas 23:50-56a
“... ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, dimana belum pernah dibaringkan mayat.” (Luk. 23:53)
Takut! Itulah perasaan yang sedang dialami semua murid Tuhan Yesus ketika Ia dianiaya. Dalam suasana ketakutan ini, hadirlah Yusuf dari Arimatea. Ia menghadap Pilatus untuk meminta jenazahNya. Statusnya sebagai anggota Majelis Besar tidak merintanginya untuk menurunkan jenazah Tuhan Yesus dan meletakkannya di kuburan yang masih baru. Sidang yang telah memutuskan untuk menyalibkan Tuhan Yesus tidak menyurutkan langkah Yusuf untuk tetap setia kepada Tuhan Yesus. Kisah Yusuf dari Arimatea sebagai pengikut Tuhan Yesus memang tidak pernah diceritakan. Namun, ia menunjukkan kemuridannya dengan memberikan kuburan yang masih baru untuk Tuhan Yesus dan ia menantikan Kerajaan Allah. Ia memiliki sikap yang berbeda dengan rekan-rekannya yang juga merindukan kedatangan Kerajan Allah sebab ia bersedia membuka hatinya untuk mengenal Tuhan Yesus. Ketika ia bersedia membuka hatinya untuk mengenal Tuhan Yesus, ia menempatkan rasa takutnya di bawah kerinduannya untuk melayani Tuhan Yesus. Hidup di tengah dunia ini memang sering diliputi oleh rasa takut. Kita perlu belajar dari Yusuf. Ia tidak bombastis menjadi murid Tuhan Yesus. Ia menunjukkan aksi yang nyata. Ia takut, tetapi ketakutannya tidak membuatnya pasrah. Ia justru melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Jika saat ini kita sedang takut, mari lakukan saja apa yang menjadi bagian kita sebaik mungkin.
REFLEKSI: Daripada tidak berbuat apa-apa, lebih baik berbuat apa yang kita bisa lakukan.
Mzm. 89:1-18; Kej. 49:1-28; 1Kor. 10:14-11:1; Mrk. 7:24-37
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



