
14 Maret 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 14 Maret 2010
SANG PENYELAMAT TAK BERDAYA Yohanes 19:28-30
Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahlan nyawa-Nya. (Yoh. 19:30)
Dalam film Highlander, Highlander adalah tokoh abadi yang tidak pernah mati. Justru setiap kali membunuh, ia semakin abadi. Ia mungkin mengalahkan tokoh Dasamuka sebab keabadiannya tampaknya tidak terbatas. Tuhan Yesus bukan Highlander. Yohanes 19:30 menceritakan kepada kita bahwa setelah meminum anggur asam, Tuhan Yesus mengatakan “Sudah Selesai” dan Ia wafat. Sebuah akhir yang tidak diharapkan para pengikut-Nya. Mesias kok meninggal dengan cara begini? Sang Mesias tidak lagi berdaya dan hanya bisa ditangisi oleh para pengikut-Nya. Mengapa ini harus terjadi? Jika hal itu tidak terjadi, manusia tidak akan memiliki kebebasan dari dosa. Ketidakberdayaan-Nya justru memberikan kehidupan bagi setiap orang. Ketidakberdayaan tidak menunjukkan sebuah kekalahan. Ketidakberdayaan-Nya juga mengingatkan bahwa kita pun tidak dapat terhindar dari kematian dan ketidakberdayaan. Tuhan Yesus siap menghadapi ketidakberdayaan-Nya sebab Ia telah melakukan setiap tugas pelayanan-Nya di tengah dunia dengan baik. Ia memang harus menjadi tidak berdaya untuk mengalahkan kuasa maut. Saatnya akan tiba bagi kita untuk menghadapi kematian dan ketidakberdayaan kita. Sudahkah kita melakukan setiap tugas pelayanan yang Allah percayakan kepada kita dengan baik sehingga pada saatnya nanti kita siap untuk berkata “Sudah Selesai”?
REFLEKSI: Menjadi tidak berdaya bukan berarti kalah.
Yos. 5:9-12; Mzm. 32; 2Kor. 5:16-21; Luk. 15:1-3, 11b-32
Minggu, 14 Maret 2010
SANG PENYELAMAT TAK BERDAYA Yohanes 19:28-30
Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahlan nyawa-Nya. (Yoh. 19:30)
Dalam film Highlander, Highlander adalah tokoh abadi yang tidak pernah mati. Justru setiap kali membunuh, ia semakin abadi. Ia mungkin mengalahkan tokoh Dasamuka sebab keabadiannya tampaknya tidak terbatas. Tuhan Yesus bukan Highlander. Yohanes 19:30 menceritakan kepada kita bahwa setelah meminum anggur asam, Tuhan Yesus mengatakan “Sudah Selesai” dan Ia wafat. Sebuah akhir yang tidak diharapkan para pengikut-Nya. Mesias kok meninggal dengan cara begini? Sang Mesias tidak lagi berdaya dan hanya bisa ditangisi oleh para pengikut-Nya. Mengapa ini harus terjadi? Jika hal itu tidak terjadi, manusia tidak akan memiliki kebebasan dari dosa. Ketidakberdayaan-Nya justru memberikan kehidupan bagi setiap orang. Ketidakberdayaan tidak menunjukkan sebuah kekalahan. Ketidakberdayaan-Nya juga mengingatkan bahwa kita pun tidak dapat terhindar dari kematian dan ketidakberdayaan. Tuhan Yesus siap menghadapi ketidakberdayaan-Nya sebab Ia telah melakukan setiap tugas pelayanan-Nya di tengah dunia dengan baik. Ia memang harus menjadi tidak berdaya untuk mengalahkan kuasa maut. Saatnya akan tiba bagi kita untuk menghadapi kematian dan ketidakberdayaan kita. Sudahkah kita melakukan setiap tugas pelayanan yang Allah percayakan kepada kita dengan baik sehingga pada saatnya nanti kita siap untuk berkata “Sudah Selesai”?
REFLEKSI: Menjadi tidak berdaya bukan berarti kalah.
Yos. 5:9-12; Mzm. 32; 2Kor. 5:16-21; Luk. 15:1-3, 11b-32
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



