
11 Maret 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Kamis, 11 Maret 2010
SALIB LAMBANG PERSAUDARAAN Yohanes 19:16b-27
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” (Yoh. 19:27)
Ada salib unik di komunitas Taize, Perancis. Pada salib itu ada gambar Tuhan Yesus di tengah, dan di sisi kanan-kiri-Nya ada gambar seorang laki-laki dan seorang perempuan. Tampaknya itu gambar Yohanes dan Maria, ibu Yesus. Salib ini hendak memperlihatkan bahwa di dalam Tuhan Yesus, ikatan persaudaraan dimungkinkan terjadi. Persaudaraan ini terjadi karena Tuhan Yesus hadir di antara mereka. Di tengah-tengah penderitaan-Nya di salib, Tuhan Yesus masih sempat memikirkan orang lain. Ia memahami betul kesedihan yang dirasakan oleh murid-murid-Nya dan Maria ibu-Nya. Di salib itulah Tuhan Yesus memplokamirkan bahwa mereka sekarang memiliki ikatan keluarga. Ikatan keluarga bukan hanya ditunjukkan dengan kedekatan secara fisik. Ayat 27 mengatakan, “Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Dengan demikian ikatan keluarga yang disatukan karena Tuhan Yesus dibuktikan dengan sebuah penerimaan. Penerimaan bukan sekadar samasama percaya kepada Tuhan Yesus. Namun lebih dalam, yaitu menerima sesama apa adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Inilah persaudaraan di dalam Kristus yang tersalib itu. Bukankah kita juga telah dipersatukan dengan sesama kita di dalam Yesus Kristus? Jika kita telah dipersatukan karena salibNya, maka tentunya bukan hanya kelebihan sesama kita yang kita terima. Kita juga diundang untuk memahami dan menerima kekurangan mereka. Sanggupkah Anda?
REFLEKSI: Menjadi murid Tuhan Yesus berarti bersedia menerima sesama manusia apa adanya.
Mzm. 42, 43; Kej. 46:1-7, 28-34; 1Kor. 9:1-15; Mrk. 6:30-46
Kamis, 11 Maret 2010
SALIB LAMBANG PERSAUDARAAN Yohanes 19:16b-27
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” (Yoh. 19:27)
Ada salib unik di komunitas Taize, Perancis. Pada salib itu ada gambar Tuhan Yesus di tengah, dan di sisi kanan-kiri-Nya ada gambar seorang laki-laki dan seorang perempuan. Tampaknya itu gambar Yohanes dan Maria, ibu Yesus. Salib ini hendak memperlihatkan bahwa di dalam Tuhan Yesus, ikatan persaudaraan dimungkinkan terjadi. Persaudaraan ini terjadi karena Tuhan Yesus hadir di antara mereka. Di tengah-tengah penderitaan-Nya di salib, Tuhan Yesus masih sempat memikirkan orang lain. Ia memahami betul kesedihan yang dirasakan oleh murid-murid-Nya dan Maria ibu-Nya. Di salib itulah Tuhan Yesus memplokamirkan bahwa mereka sekarang memiliki ikatan keluarga. Ikatan keluarga bukan hanya ditunjukkan dengan kedekatan secara fisik. Ayat 27 mengatakan, “Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” Dengan demikian ikatan keluarga yang disatukan karena Tuhan Yesus dibuktikan dengan sebuah penerimaan. Penerimaan bukan sekadar samasama percaya kepada Tuhan Yesus. Namun lebih dalam, yaitu menerima sesama apa adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Inilah persaudaraan di dalam Kristus yang tersalib itu. Bukankah kita juga telah dipersatukan dengan sesama kita di dalam Yesus Kristus? Jika kita telah dipersatukan karena salibNya, maka tentunya bukan hanya kelebihan sesama kita yang kita terima. Kita juga diundang untuk memahami dan menerima kekurangan mereka. Sanggupkah Anda?
REFLEKSI: Menjadi murid Tuhan Yesus berarti bersedia menerima sesama manusia apa adanya.
Mzm. 42, 43; Kej. 46:1-7, 28-34; 1Kor. 9:1-15; Mrk. 6:30-46
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



