
9 Maret 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Selasa, 9 Maret 2010
JALAN SALIB Yohanes 18:1-11
“Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yoh. 18:11)
Di beberapa gereja, prosesi Jalan Salib dilakukan pada hari Jumat Agung. Prosesi ini dilakukan untuk menghayati secara mendalam kesengsaraan Tuhan Yesus. Jalan Salib yang dilalui Tuhan Yesus berawal dengan doa-Nya di Taman Getsemani. Selanjutnya, pengkhianatan Yudas dan penangkapan Tuhan Yesus. Dengan tenang Ia berkata kepada Petrus yang membela-Nya bahwa ini adalah realita yang harus dihadapi. Tuhan Yesus dengan kesadaran penuh meminum cawan dari BapaNya, yang artinya bersedia menderita untuk manusia. Jalan yang penuh penderitaan ini dilalui-Nya tidak dengan keluhan-keluhan. Bahkan Tuhan Yesus tidak berusaha melepaskan diri dari serangkaian penderitaan. Ia tegar ketika harus berhadapan dengan Imam Besar. Tanpa kehilangan ketenangan, Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Ia tidak mengecam ketika orang banyak berteriak-teriak, “Salibkan Dia! Bebaskan Barnabas untuk kami!” Semua dilalui dan dihadapi dengan ketenangan sebab Tuhan Yesus mengetahui mengapa Ia berada di sana dan melakukan semua itu. Prosesi Jalan Salib merupakan momen yang inspiratif bagi setiap orang percaya dalam menapaki kehidupannya. Kehidupan orang percaya tidak selancar jalan tol. Kehidupannya harus melalui jalanan berbatu dan terjal. Setiap orang percaya diajak untuk mengecap pahit dan manisnya kehidupan dengan kesetiaan iman. Inilah hakikat prosesi Jalan Salib.
REFLEKSI: Menerima pahitnya kehidupan akan mempermanis kehidupan.
Mzm. 78:1-39; Kej. 45:1-15; 1Kor. 7:32-40; Mrk. 6:1-13
Selasa, 9 Maret 2010
JALAN SALIB Yohanes 18:1-11
“Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yoh. 18:11)
Di beberapa gereja, prosesi Jalan Salib dilakukan pada hari Jumat Agung. Prosesi ini dilakukan untuk menghayati secara mendalam kesengsaraan Tuhan Yesus. Jalan Salib yang dilalui Tuhan Yesus berawal dengan doa-Nya di Taman Getsemani. Selanjutnya, pengkhianatan Yudas dan penangkapan Tuhan Yesus. Dengan tenang Ia berkata kepada Petrus yang membela-Nya bahwa ini adalah realita yang harus dihadapi. Tuhan Yesus dengan kesadaran penuh meminum cawan dari BapaNya, yang artinya bersedia menderita untuk manusia. Jalan yang penuh penderitaan ini dilalui-Nya tidak dengan keluhan-keluhan. Bahkan Tuhan Yesus tidak berusaha melepaskan diri dari serangkaian penderitaan. Ia tegar ketika harus berhadapan dengan Imam Besar. Tanpa kehilangan ketenangan, Tuhan Yesus menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Ia tidak mengecam ketika orang banyak berteriak-teriak, “Salibkan Dia! Bebaskan Barnabas untuk kami!” Semua dilalui dan dihadapi dengan ketenangan sebab Tuhan Yesus mengetahui mengapa Ia berada di sana dan melakukan semua itu. Prosesi Jalan Salib merupakan momen yang inspiratif bagi setiap orang percaya dalam menapaki kehidupannya. Kehidupan orang percaya tidak selancar jalan tol. Kehidupannya harus melalui jalanan berbatu dan terjal. Setiap orang percaya diajak untuk mengecap pahit dan manisnya kehidupan dengan kesetiaan iman. Inilah hakikat prosesi Jalan Salib.
REFLEKSI: Menerima pahitnya kehidupan akan mempermanis kehidupan.
Mzm. 78:1-39; Kej. 45:1-15; 1Kor. 7:32-40; Mrk. 6:1-13
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



