
8 Maret 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Senin, 8 Maret 2010
BERDOA BERSAMA YESUS Matius 26:36-46
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat. 26:41)
Dalam hidup ini kita senantiasa diperhadapkan pada berbagai pilihan. Ketika bangun pagi hari, kita diperhadapkan pada pilihan menarik selimut lebih dalam atau segera bangun. Mungkin ini adalah pilihan yang biasa sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan. Namun, bagaimana jika pilihan itu berkenaan dengan jalan hidup kita? Di Taman Getsemani, Sang Juru Selamat juga menghadapi pilihan yang sulit. Pilihan itu membuat-Nya merasa ketakutan yang amat sangat. Manakah yang harus Ia pilih? Mengambil cawan yang ada di hadapan-Nya atau tidak? Semakin sedih hati-Nya tatkala Ia menjumpai murid-murid-Nya yang seharusnya berdoa bersamaNya justru memilih tidur nyenyak. Takut dan ditinggalkan itulah yang dialami dan dirasakan oleh Tuhan Yesus. Namun, pilihan Tuhan Yesus tetap sama, yaitu mengambil cawan itu dan menyerahkan diri untuk umat manusia. Pilihan Tuhan Yesus terungkap dalam kekhusyukan-Nya berdoa. “Jadilah kehendakMu!” Doa juga menjadi penguat untuk tetap menjalani jalan penderitaan yang harus dilalui-Nya. Sedangkan para murid yang tertidur justru akhirnya pergi dan meninggalkan Tuhan Yesus. Seandainya mereka memilih untuk berjaga dalam doa, mungkin mereka tidak akan lari dan sembunyi ketika Tuhan Yesus disiksa. Apa pilihan kita? Berdoa bersama-Nya atau tertidur lelap? Jika pilihannya berdoa, tentu kita akan terbantu untuk memiliki integritas dalam hidup ini, yaitu selaras dalam kata dan perbuatan.
REFLEKSI: Berjaga di dalam doa membantu kita menjadi orang yang konsisten dalam kata dan perbuatan.
Mzm. 80; Kej. 44:18-34; 1Kor. 7:25-31; Mrk. 5:21-43
Senin, 8 Maret 2010
BERDOA BERSAMA YESUS Matius 26:36-46
“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Mat. 26:41)
Dalam hidup ini kita senantiasa diperhadapkan pada berbagai pilihan. Ketika bangun pagi hari, kita diperhadapkan pada pilihan menarik selimut lebih dalam atau segera bangun. Mungkin ini adalah pilihan yang biasa sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan. Namun, bagaimana jika pilihan itu berkenaan dengan jalan hidup kita? Di Taman Getsemani, Sang Juru Selamat juga menghadapi pilihan yang sulit. Pilihan itu membuat-Nya merasa ketakutan yang amat sangat. Manakah yang harus Ia pilih? Mengambil cawan yang ada di hadapan-Nya atau tidak? Semakin sedih hati-Nya tatkala Ia menjumpai murid-murid-Nya yang seharusnya berdoa bersamaNya justru memilih tidur nyenyak. Takut dan ditinggalkan itulah yang dialami dan dirasakan oleh Tuhan Yesus. Namun, pilihan Tuhan Yesus tetap sama, yaitu mengambil cawan itu dan menyerahkan diri untuk umat manusia. Pilihan Tuhan Yesus terungkap dalam kekhusyukan-Nya berdoa. “Jadilah kehendakMu!” Doa juga menjadi penguat untuk tetap menjalani jalan penderitaan yang harus dilalui-Nya. Sedangkan para murid yang tertidur justru akhirnya pergi dan meninggalkan Tuhan Yesus. Seandainya mereka memilih untuk berjaga dalam doa, mungkin mereka tidak akan lari dan sembunyi ketika Tuhan Yesus disiksa. Apa pilihan kita? Berdoa bersama-Nya atau tertidur lelap? Jika pilihannya berdoa, tentu kita akan terbantu untuk memiliki integritas dalam hidup ini, yaitu selaras dalam kata dan perbuatan.
REFLEKSI: Berjaga di dalam doa membantu kita menjadi orang yang konsisten dalam kata dan perbuatan.
Mzm. 80; Kej. 44:18-34; 1Kor. 7:25-31; Mrk. 5:21-43
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



