Cover Media Cetak

young listener

young listener

3 Maret 2010

Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Rabu, 3 Maret 2010
PUASA Yesaya 58:1-9
“… Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman ….” (Yes. 58:6)
“Puasa” sering diartikan tidak makan-minum untuk sementara waktu. Namun, arti puasa ternyata bukan hanya itu. Puasa berasal dari bahasa Sanskerta. Upa berarti dekat; wasa berarti Sang Hyang Widi. Puasa adalah sarana mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta. Puasa juga dekat dengan kehidupan bangsa Israel. Puasa bukan hanya sarana untuk mencapai suatu kesempurnaan, tetapi juga berfungsi sebagai tanda, simbol pengudusan diri dengan memiliki tekad memperjuangkan sesuatu. Namun, akhirnya puasa hanya menjadi ritual yang kehilangan makna. Firman Tuhan melalui Nabi Yesaya menegur laku puasa yang hanya mementingkan diri sendiri. Tatkala umat Tuhan merasa telah melakukan laku puasa dengan benar, justru Tuhan menghardik laku puasa yang mereka lakukan. Puasa yang dikehendaki Tuhan adalah puasa yang diwujudkan dengan pengendalian diri. Pengendalian diri ini membantu umat melihat bahwa ada orang lain di sekitar mereka. Bahkan setiap umat yang berpuasa dipanggil menjadi terang dengan berpihak kepada yang tersisih dan terpinggirkan. Inilah perwujudan puasa yang sesungguhnya –ketika segala sesuatu tidak dihabiskan untuk diri sendiri. Tidak sedikit gereja yang melakukan aksi puasa dalam rangka masa Prapaska. Puasa masa Prapaska ini menjadi sarana melatih diri untuk prihatin dan mengenang kesengsaraan Kristus, Sang Penebus. Puasa akan kehilangan makna jika tidak disertai pengendalian diri.
REFLEKSI: Mengendalikan diri tidak semudah mengendalikan rasa lapar.
Mzm. 72; Kej. 42:18-28; 1Kor. 5:6-6:8; Mrk. 4:1-20
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.