
28 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 28 Februari 2010
SOLIDARITAS YESUS 1 Petrus 2:18-25
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. (1Ptr. 2:24)
Fransiskus dari Assisi sedang sibuk menggali lubang untuk menanam pohon. Seorang jemaat berkomentar, “Seandainya Anda tahu, kalau hari ini akan mati, apakah Anda akan tetap menanam pohon, padahal toh tidak akan menikmati buahnya?” Dengan senyum Fransiskus menjawab, “Saya sudah siap mati kapan pun. Saya menanam pohon bukan untuk menikmati hasilnya, tetapi untuk memberi kesempatan agar orang lain bisa menikmati buah karya saya.” Hidup kita akan lebih bermakna jika karya kita tidak ditujukan semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membangun kehidupan bersama. Dalam bacaan kita dinyatakan bahwa Tuhan Yesus telah memikul dosa kita. Tujuannya bukan agar Ia menikmati kehidupan, melainkan agar kita yang percaya kepada-Nya memperoleh kehidupan. Yesus melakukan karya yang luar biasa dengan bersolidaritas terhadap manusia. Ia bersedia untuk menjadi sama dengan manusia dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia bersedia taat dan mati di kayu salib. Bersolidaritas berarti bersedia merendahkan diri dan menjadi kawan yang setia. Kepekaan sosial dari gereja adalah ketika gereja bersedia untuk bersolidaritas terhadap dunia di sekitarnya. Gereja yang suka memperlihatkan kemegahannya hanya akan membuatkan kesenjangan sosial semakin tinggi. Hal ini akan menimbulkan hubungan sosial yang tidak sehat, terlebih ketika program sosial yang dilakukan gereja justru ditujukan untuk memperlihatkan superioritas gereja.
DOA: Tuhan, ampuni kami karena kami sering sombong dan kurang bersolidaritas terhadap masyarakat. Amin.
Kej. 15:1-12, 17-18; Mzm. 27; Flp. 3:17-4:1; Luk. 13:31-35
Minggu, 28 Februari 2010
SOLIDARITAS YESUS 1 Petrus 2:18-25
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. (1Ptr. 2:24)
Fransiskus dari Assisi sedang sibuk menggali lubang untuk menanam pohon. Seorang jemaat berkomentar, “Seandainya Anda tahu, kalau hari ini akan mati, apakah Anda akan tetap menanam pohon, padahal toh tidak akan menikmati buahnya?” Dengan senyum Fransiskus menjawab, “Saya sudah siap mati kapan pun. Saya menanam pohon bukan untuk menikmati hasilnya, tetapi untuk memberi kesempatan agar orang lain bisa menikmati buah karya saya.” Hidup kita akan lebih bermakna jika karya kita tidak ditujukan semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membangun kehidupan bersama. Dalam bacaan kita dinyatakan bahwa Tuhan Yesus telah memikul dosa kita. Tujuannya bukan agar Ia menikmati kehidupan, melainkan agar kita yang percaya kepada-Nya memperoleh kehidupan. Yesus melakukan karya yang luar biasa dengan bersolidaritas terhadap manusia. Ia bersedia untuk menjadi sama dengan manusia dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia bersedia taat dan mati di kayu salib. Bersolidaritas berarti bersedia merendahkan diri dan menjadi kawan yang setia. Kepekaan sosial dari gereja adalah ketika gereja bersedia untuk bersolidaritas terhadap dunia di sekitarnya. Gereja yang suka memperlihatkan kemegahannya hanya akan membuatkan kesenjangan sosial semakin tinggi. Hal ini akan menimbulkan hubungan sosial yang tidak sehat, terlebih ketika program sosial yang dilakukan gereja justru ditujukan untuk memperlihatkan superioritas gereja.
DOA: Tuhan, ampuni kami karena kami sering sombong dan kurang bersolidaritas terhadap masyarakat. Amin.
Kej. 15:1-12, 17-18; Mzm. 27; Flp. 3:17-4:1; Luk. 13:31-35
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



