
15 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Senin, 15 Februari 2010
KITA SAMA-SAMA SUBJEK Lukas 3:10-20
“Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (Luk. 3:14)
Konon kerusuhan di Ambon dipicu oleh persoalan sepele. Seorang sopir angkot pribumi diperas oleh preman pendatang. Tidak suka dengan perlakuan itu, maka mereka berkelahi. Tidak puas dengan cara itu, masing-masing pihak memanggil teman di kampungnya sehingga terjadi saling serbu. Kerusuhan semakin membesar ketika dihembuskan isu perihal konflik antarpemeluk agama, apalagi mengundang pihak luar untuk membantai pihak lain. Premanisme ternyata masih menjadi gaya hidup sebagian orang yang merasa lebih punya kuasa, lebih ditakuti, merasa punya hak, dsb. Kecenderungan yang kuat menindas yang lemah bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Saat Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan, hadir juga para prajurit yang mau bertobat dan memohon petunjuk. Yohanes mengarahkan mereka untuk tidak merampas dan memeras sesama, melainkan belajar untuk mencukupkan hidupnya dengan gaji yang diterima. Kecenderungan orang yang memiliki senjata dan kekuatan adalah menindas yang lemah. Kaum miskin dan tersisih yang seharusnya dibela justru menjadi objek untuk mendatangkan penghasilan tambahan. Jika kita memandang orang lain sebagai objek tindakan kita, maka akan tercipta posisi yang menang dan yang kalah, yang diuntungkan dan dirugikan. Namun, jika kita memandang orang lain sebagai sesama subjek, maka diharapkan terjadi posisi samasama menang dan sama-sama untung. Tidak ada pihak yang merasa berkuasa dan yang lain tertindas.
DOA: Tuhan, tolong kami untuk bisa menciptakan hubungan yang baik dengan sesama. Amin.
Mzm. 25; Ams. 27:1-6, 10-12; Flp. 2:1-13; Yoh. 18:15-18, 25-27
Senin, 15 Februari 2010
KITA SAMA-SAMA SUBJEK Lukas 3:10-20
“Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (Luk. 3:14)
Konon kerusuhan di Ambon dipicu oleh persoalan sepele. Seorang sopir angkot pribumi diperas oleh preman pendatang. Tidak suka dengan perlakuan itu, maka mereka berkelahi. Tidak puas dengan cara itu, masing-masing pihak memanggil teman di kampungnya sehingga terjadi saling serbu. Kerusuhan semakin membesar ketika dihembuskan isu perihal konflik antarpemeluk agama, apalagi mengundang pihak luar untuk membantai pihak lain. Premanisme ternyata masih menjadi gaya hidup sebagian orang yang merasa lebih punya kuasa, lebih ditakuti, merasa punya hak, dsb. Kecenderungan yang kuat menindas yang lemah bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Saat Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan, hadir juga para prajurit yang mau bertobat dan memohon petunjuk. Yohanes mengarahkan mereka untuk tidak merampas dan memeras sesama, melainkan belajar untuk mencukupkan hidupnya dengan gaji yang diterima. Kecenderungan orang yang memiliki senjata dan kekuatan adalah menindas yang lemah. Kaum miskin dan tersisih yang seharusnya dibela justru menjadi objek untuk mendatangkan penghasilan tambahan. Jika kita memandang orang lain sebagai objek tindakan kita, maka akan tercipta posisi yang menang dan yang kalah, yang diuntungkan dan dirugikan. Namun, jika kita memandang orang lain sebagai sesama subjek, maka diharapkan terjadi posisi samasama menang dan sama-sama untung. Tidak ada pihak yang merasa berkuasa dan yang lain tertindas.
DOA: Tuhan, tolong kami untuk bisa menciptakan hubungan yang baik dengan sesama. Amin.
Mzm. 25; Ams. 27:1-6, 10-12; Flp. 2:1-13; Yoh. 18:15-18, 25-27
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



