
12 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Jumat, 12 Februari 2010
WONG CILIK Matius 10:40-42
“Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini ....” (Mat. 10:42)
Ketika kampanye pemilu masih ramai dijadikan ajang mencari dukungan rakyat, maka ada partai-partai yang menggunakan slogan “Peduli Karo Wong Cilik” sebagai cara menarik simpatik. Ini menunjukkan bahwa realitas bangsa kita masih didominasi oleh wong cilik –sebagian besar penduduk Indonesia termasuk golongan miskin, namun memiliki jumlah suara yang signifikan. Benarkah mereka peduli pada orang-orang kecil? Kenyataannya, banyak pencari kekuasaan hanya memanipulasi orang-orang kecil demi mendapatkan kekuasaan, yang pada gilirannya orang-orang kecil ini akan kembali terlupakan. Salah satu etika kehidupan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah menghargai sesama manusia sebagai ciptaan Allah yang bermartabat. Bahkan Tuhan Yesus sendiri merepresentasikan diriNya sebagai wong cilik. Bentuk perhatian kepada kaum papa, lemah, dan tersisih mendapat landasan teologis yang kuat, yakni dianggap sebagai bentuk perhatian kepada Yesus sendiri. Memberikan kesejukan kepada mereka yang setiap hari berjuang di bawah terik matahari demi mempertahankan hidup adalah suatu bentuk pembelaan kepada kaum yang lemah. Wong cilik adalah sebuah realitas yang tak terelakkan di sekitar kita. Seberapa besar kita peduli terhadap mereka akan menunjukkan seberapa besar kita bersyukur atas anugerah dan berkat yang kita terima dari Tuhan.
DOA: Tuhan, ajar kami untuk bisa berbagi berkat dengan sesama kami yang berkekurangan. Amin.
Mzm. 88; Kej. 27:46-28:4, 10-22; Rm. 13:1-14; Yoh. 8:33-47
Jumat, 12 Februari 2010
WONG CILIK Matius 10:40-42
“Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini ....” (Mat. 10:42)
Ketika kampanye pemilu masih ramai dijadikan ajang mencari dukungan rakyat, maka ada partai-partai yang menggunakan slogan “Peduli Karo Wong Cilik” sebagai cara menarik simpatik. Ini menunjukkan bahwa realitas bangsa kita masih didominasi oleh wong cilik –sebagian besar penduduk Indonesia termasuk golongan miskin, namun memiliki jumlah suara yang signifikan. Benarkah mereka peduli pada orang-orang kecil? Kenyataannya, banyak pencari kekuasaan hanya memanipulasi orang-orang kecil demi mendapatkan kekuasaan, yang pada gilirannya orang-orang kecil ini akan kembali terlupakan. Salah satu etika kehidupan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus adalah menghargai sesama manusia sebagai ciptaan Allah yang bermartabat. Bahkan Tuhan Yesus sendiri merepresentasikan diriNya sebagai wong cilik. Bentuk perhatian kepada kaum papa, lemah, dan tersisih mendapat landasan teologis yang kuat, yakni dianggap sebagai bentuk perhatian kepada Yesus sendiri. Memberikan kesejukan kepada mereka yang setiap hari berjuang di bawah terik matahari demi mempertahankan hidup adalah suatu bentuk pembelaan kepada kaum yang lemah. Wong cilik adalah sebuah realitas yang tak terelakkan di sekitar kita. Seberapa besar kita peduli terhadap mereka akan menunjukkan seberapa besar kita bersyukur atas anugerah dan berkat yang kita terima dari Tuhan.
DOA: Tuhan, ajar kami untuk bisa berbagi berkat dengan sesama kami yang berkekurangan. Amin.
Mzm. 88; Kej. 27:46-28:4, 10-22; Rm. 13:1-14; Yoh. 8:33-47
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



