
10 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Rabu, 10 Februari 2010
KESADARAN KOLEKTIF Yunus 3:1-10
“... haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.” (Yun. 3:8)
Bukan rahasia lagi bahwa kondisi negara dan bangsa kita sangat memprihatinkan di segala bidang kehidupan. Franz Magnis-Suseno pernah mengatakan bahwa dibutuhkan kesadaran kolektif jika kita berharap ada pemulihan di Indonesia. Kesadaran ini harus dimulai dari para elit politik yang memberi keteladanan hingga pada masyarakat akar rumput. Kesadaran kolektif ini menuntut perubahan mentalitas bangsa. Nabi Yunus, yang pernah mangkir dari penugasan Tuhan, kembali mendapat perintah untuk pergi ke kota Niniwe. Tujuannya adalah untuk menyampaikan peringatan Tuhan yang akan menunggangbalikkan kota itu. Namun, apa respons penduduk kota itu? Mereka percaya dan menjadi sadar akan dosanya sehingga bertobat. Kesadaran kolektif itu dinyatakan lewat keharusan untuk bersama-sama berpuasa dan mengenakan kain kabung. Ini dilakukan baik oleh orang dewasa maupun anak-anak, baik oleh manusia maupun ternak. Ini dilakukan bukan hanya oleh rakyat jelata, tetapi juga oleh para petinggi, bahkan raja Asyur. Apa dampaknya? Ternyata Tuhan mengurungkan niat-Nya sehingga kota Niniwe yang telah berbalik kepada Tuhan itu tidak jadi dihancurkan. Betapa sulitnya memperbaiki kualitas kehidupan kota Jakarta. Mengapa? Karena tidak ada kesadaran kolektif. Ini berarti tingkat kecerdasan sosial penduduk Jakarta sangat rendah –bukan hanya pada tingkat masyarakat bawah, tetapi juga pada kaum elit yang duduk di pemerintahan. Apakah gereja juga mengalami kelemahan yang sama?
DOA: Tuhan, tolong kami untuk berani menyatakan kebenaran sekalipun kami dianggap minoritas. Amin.
Mzm. 119:97-120; Kej. 27:1-29; Rm. 12:1-8; Yoh. 8:12-20
Rabu, 10 Februari 2010
KESADARAN KOLEKTIF Yunus 3:1-10
“... haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.” (Yun. 3:8)
Bukan rahasia lagi bahwa kondisi negara dan bangsa kita sangat memprihatinkan di segala bidang kehidupan. Franz Magnis-Suseno pernah mengatakan bahwa dibutuhkan kesadaran kolektif jika kita berharap ada pemulihan di Indonesia. Kesadaran ini harus dimulai dari para elit politik yang memberi keteladanan hingga pada masyarakat akar rumput. Kesadaran kolektif ini menuntut perubahan mentalitas bangsa. Nabi Yunus, yang pernah mangkir dari penugasan Tuhan, kembali mendapat perintah untuk pergi ke kota Niniwe. Tujuannya adalah untuk menyampaikan peringatan Tuhan yang akan menunggangbalikkan kota itu. Namun, apa respons penduduk kota itu? Mereka percaya dan menjadi sadar akan dosanya sehingga bertobat. Kesadaran kolektif itu dinyatakan lewat keharusan untuk bersama-sama berpuasa dan mengenakan kain kabung. Ini dilakukan baik oleh orang dewasa maupun anak-anak, baik oleh manusia maupun ternak. Ini dilakukan bukan hanya oleh rakyat jelata, tetapi juga oleh para petinggi, bahkan raja Asyur. Apa dampaknya? Ternyata Tuhan mengurungkan niat-Nya sehingga kota Niniwe yang telah berbalik kepada Tuhan itu tidak jadi dihancurkan. Betapa sulitnya memperbaiki kualitas kehidupan kota Jakarta. Mengapa? Karena tidak ada kesadaran kolektif. Ini berarti tingkat kecerdasan sosial penduduk Jakarta sangat rendah –bukan hanya pada tingkat masyarakat bawah, tetapi juga pada kaum elit yang duduk di pemerintahan. Apakah gereja juga mengalami kelemahan yang sama?
DOA: Tuhan, tolong kami untuk berani menyatakan kebenaran sekalipun kami dianggap minoritas. Amin.
Mzm. 119:97-120; Kej. 27:1-29; Rm. 12:1-8; Yoh. 8:12-20
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



