
7 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 7 Februari 2010
DARI SUDUT PANDANG SIAPA?
Amsal 16:1-7
Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati. (Ams. 16:2)
“Mendengar anggota keluarga ngomel, itu berarti aku masih punya keluarga. Merasa lelah tiap sore, itu berarti aku masih bisa bekerja keras. Membersihkan perabot makan seusai tamu pulang, itu berarti aku punya banyak teman. Bangun pagi dan bekerja seharian, itu berarti aku masih berguna di tempat pekerjaan.” Sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan ungkapan syukur yang berbeda juga. Jika kita menghadapi keadaan yang serupa, akankah kita memiliki cara pandang seperti itu? Cara pandang yang berbeda akan menghasilkan respons yang berbeda pula. Ketika menghadapi konflik, sering kita menganggap bahwa kita selalu benar sedangkan orang lain selalu salah atau pemicu konflik. Jarang kita bersedia untuk mengakui bahwa ternyata kita pun terlibat dalam terciptanya suatu persoalan. Penulis Amsal menegaskan bahwa memang kita sering menganggap jalan kita benar, bersih menurut pandangan kita, tetapi kita perlu menyadari bahwa Tuhanlah yang maha tahu dan menguji hati. Hubungan sosial sering tidak memperoleh jalan keluar terbaik jika kita tidak menundukkan diri pada otoritas Tuhan Yang Mahatahu. Sering kita menutup diri dan tidak jujur akan realitas yang sebenarnya. Kepekaan sosial justru akan dimulai pada saat kita menyadari bahwa sebenarnya kita turut terlibat di dalam terjadinya keadaan yang baik maupun yang buruk. Itulah sebabnya kita dipanggil untuk mengadakan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
DOA: Tuhan, kami sadar bahwa baik-buruknya kehidupan ini adalah tanggung jawab kami juga. Amin.
Yes. 6:1-8, (9-13); Mzm. 138; 1Kor. 15:1-11; Luk. 5:1-11
Minggu, 7 Februari 2010
DARI SUDUT PANDANG SIAPA?
Amsal 16:1-7
Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati. (Ams. 16:2)
“Mendengar anggota keluarga ngomel, itu berarti aku masih punya keluarga. Merasa lelah tiap sore, itu berarti aku masih bisa bekerja keras. Membersihkan perabot makan seusai tamu pulang, itu berarti aku punya banyak teman. Bangun pagi dan bekerja seharian, itu berarti aku masih berguna di tempat pekerjaan.” Sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan ungkapan syukur yang berbeda juga. Jika kita menghadapi keadaan yang serupa, akankah kita memiliki cara pandang seperti itu? Cara pandang yang berbeda akan menghasilkan respons yang berbeda pula. Ketika menghadapi konflik, sering kita menganggap bahwa kita selalu benar sedangkan orang lain selalu salah atau pemicu konflik. Jarang kita bersedia untuk mengakui bahwa ternyata kita pun terlibat dalam terciptanya suatu persoalan. Penulis Amsal menegaskan bahwa memang kita sering menganggap jalan kita benar, bersih menurut pandangan kita, tetapi kita perlu menyadari bahwa Tuhanlah yang maha tahu dan menguji hati. Hubungan sosial sering tidak memperoleh jalan keluar terbaik jika kita tidak menundukkan diri pada otoritas Tuhan Yang Mahatahu. Sering kita menutup diri dan tidak jujur akan realitas yang sebenarnya. Kepekaan sosial justru akan dimulai pada saat kita menyadari bahwa sebenarnya kita turut terlibat di dalam terjadinya keadaan yang baik maupun yang buruk. Itulah sebabnya kita dipanggil untuk mengadakan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik.
DOA: Tuhan, kami sadar bahwa baik-buruknya kehidupan ini adalah tanggung jawab kami juga. Amin.
Yes. 6:1-8, (9-13); Mzm. 138; 1Kor. 15:1-11; Luk. 5:1-11
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



