
3 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Rabu, 3 Februari 2010
RINGAN SAMA DIJINJING, BERAT SAMA DIPIKUL Keluaran 18:13-27
“... Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini ....” (Kel. 18:18)
Dalam sebuah obrolan di radio terdengar ucapan yang berbunyi, “Berbahagialah sebuah negara yang memiliki banyak pahlawan.” Namun nara sumber dalam dialog itu menyanggah bahwa jauh lebih bahagia sebuah bangsa yang tidak membutuhkan pahlawan. Mengapa? Karena keadaan bangsa yang demikian sudah mencapai taraf hidup yang disebut Gemah Ripah Loh Jinawi atau dalam bahasa Alkitab, sudah dalam situasi “syalom”. Konsep tentang kepahlawanan cenderung untuk mengandalkan individu-individu yang memiliki kekuatan super, yang kehadirannya selalu dibutuhkan, namun menciptakan ketergantungan. Peribahasa “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” justru mengandaikan adanya kebersamaan dan kerja sama yang harmonis, tidak membebankan tanggung jawab pada seorang pahlawan. Dalam perikop yang kita baca, seakan Musa melakukan tugas seorang diri, single fighter. Melihat kondisi dan beratnya tanggung jawab itu, maka mertua Musa, Yitro, memberi nasihat untuk mendelegasikan tugas pada orang-orang yang bisa dilatih dan dipercaya. Mendelegasikan tugas merupakan salah satu prinsip kepemimpinan yang patut dilakukan. Di dalamnya dibutuhkan sebuah relasi yang baik dan tingkat saling percaya yang tinggi. Keadaan “syalom” bisa dinikmati oleh setiap orang manakala tiap orang saling mengisi perannya masing-masing dalam memaknai kehidupan bersama. Bukan hanya berbagi hak, tetapi juga berbagi tanggung jawab sehingga keharmonisan dalam kebersamaan itu terjadi.
DOA: Tuhan, kami bersyukur karena Engkau memberi orang-orang di sekitar kami untuk membangun kasih persaudaraan. Amin.
Mzm. 72; Kej. 22:1-18; Ibr. 11:23-31; Yoh. 6:52-59
Rabu, 3 Februari 2010
RINGAN SAMA DIJINJING, BERAT SAMA DIPIKUL Keluaran 18:13-27
“... Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini ....” (Kel. 18:18)
Dalam sebuah obrolan di radio terdengar ucapan yang berbunyi, “Berbahagialah sebuah negara yang memiliki banyak pahlawan.” Namun nara sumber dalam dialog itu menyanggah bahwa jauh lebih bahagia sebuah bangsa yang tidak membutuhkan pahlawan. Mengapa? Karena keadaan bangsa yang demikian sudah mencapai taraf hidup yang disebut Gemah Ripah Loh Jinawi atau dalam bahasa Alkitab, sudah dalam situasi “syalom”. Konsep tentang kepahlawanan cenderung untuk mengandalkan individu-individu yang memiliki kekuatan super, yang kehadirannya selalu dibutuhkan, namun menciptakan ketergantungan. Peribahasa “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” justru mengandaikan adanya kebersamaan dan kerja sama yang harmonis, tidak membebankan tanggung jawab pada seorang pahlawan. Dalam perikop yang kita baca, seakan Musa melakukan tugas seorang diri, single fighter. Melihat kondisi dan beratnya tanggung jawab itu, maka mertua Musa, Yitro, memberi nasihat untuk mendelegasikan tugas pada orang-orang yang bisa dilatih dan dipercaya. Mendelegasikan tugas merupakan salah satu prinsip kepemimpinan yang patut dilakukan. Di dalamnya dibutuhkan sebuah relasi yang baik dan tingkat saling percaya yang tinggi. Keadaan “syalom” bisa dinikmati oleh setiap orang manakala tiap orang saling mengisi perannya masing-masing dalam memaknai kehidupan bersama. Bukan hanya berbagi hak, tetapi juga berbagi tanggung jawab sehingga keharmonisan dalam kebersamaan itu terjadi.
DOA: Tuhan, kami bersyukur karena Engkau memberi orang-orang di sekitar kami untuk membangun kasih persaudaraan. Amin.
Mzm. 72; Kej. 22:1-18; Ibr. 11:23-31; Yoh. 6:52-59
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



