
2 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Selasa, 2 Februari 2010
ANIMAL SYMBOLICUM Kejadian 11:1-9
“Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. ....” (Kej. 11:6)
Istilah “Animal Symbolicum” diperkenalkan oleh Ernst Cassirer di dalam buku An Essay on Man. Menurut Cassirer, manusia tidak sekadar merespons lingkungannya secara naluriah dan langsung, tetapi juga secara intelektual mampu memberikan respons interpretatif dan bahkan manipulatif. Dengan cara ini, manusia tidak hanya hidup dalam dunia fisik saja, tetapi juga hidup dalam dunia simbolik yang betul-betul khas manusiawi. Dari sinilah manusia menyusun realitas kebudayaannya yang secara umum merupakan hasil dari proses simbolisasi dalam hidup dan kehidupannya. Dari dasar pandangan ini, Ernst Cassirer kemudian menyebut manusia sebagai Animal Symbolicum, yakni hewan yang bersimbol, baik simbol bunyi (bahasa), angka, dan huruf, dsb. Bahasa merupakan simbol-simbol bermakna, yang melaluinya manusia berkomunikasi. Dalam gambaran di kitab Kejadian, pada awalnya manusia hanya memiliki satu bahasa. Melalui simbol bunyi dan huruf, manusia saling berbagi informasi dan ide, bahkan mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Kesamaan bahasa membuat relasi antarmanusia terjalin dengan erat. Sebaliknya, perbedaan bahasa menimbulkan kesenjangan, bahkan kesalahmengertian. Kualitas komunikasi dalam keluarga, gereja dan masyarakat akan meningkat, jika masing-masing bersedia untuk menerima dan memberi. Untuk itu dibutuhkan kerelaan untuk membuka diri dalam bergaul dengan sesama.
DOA: Tuhan, berikan hikmat kepada kami agar kami bisa berkomunikasi dengan baik. Amin.
Mzm. 61, 62; Kej. 21:1-21; Ibr. 11:13-22; Yoh. 6:41-51
Selasa, 2 Februari 2010
ANIMAL SYMBOLICUM Kejadian 11:1-9
“Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. ....” (Kej. 11:6)
Istilah “Animal Symbolicum” diperkenalkan oleh Ernst Cassirer di dalam buku An Essay on Man. Menurut Cassirer, manusia tidak sekadar merespons lingkungannya secara naluriah dan langsung, tetapi juga secara intelektual mampu memberikan respons interpretatif dan bahkan manipulatif. Dengan cara ini, manusia tidak hanya hidup dalam dunia fisik saja, tetapi juga hidup dalam dunia simbolik yang betul-betul khas manusiawi. Dari sinilah manusia menyusun realitas kebudayaannya yang secara umum merupakan hasil dari proses simbolisasi dalam hidup dan kehidupannya. Dari dasar pandangan ini, Ernst Cassirer kemudian menyebut manusia sebagai Animal Symbolicum, yakni hewan yang bersimbol, baik simbol bunyi (bahasa), angka, dan huruf, dsb. Bahasa merupakan simbol-simbol bermakna, yang melaluinya manusia berkomunikasi. Dalam gambaran di kitab Kejadian, pada awalnya manusia hanya memiliki satu bahasa. Melalui simbol bunyi dan huruf, manusia saling berbagi informasi dan ide, bahkan mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Kesamaan bahasa membuat relasi antarmanusia terjalin dengan erat. Sebaliknya, perbedaan bahasa menimbulkan kesenjangan, bahkan kesalahmengertian. Kualitas komunikasi dalam keluarga, gereja dan masyarakat akan meningkat, jika masing-masing bersedia untuk menerima dan memberi. Untuk itu dibutuhkan kerelaan untuk membuka diri dalam bergaul dengan sesama.
DOA: Tuhan, berikan hikmat kepada kami agar kami bisa berkomunikasi dengan baik. Amin.
Mzm. 61, 62; Kej. 21:1-21; Ibr. 11:13-22; Yoh. 6:41-51
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



