
31 Januari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 31 Januari 2010
BENCI DAN SAKIT HATI? NO WAY! 1 Yohanes 3:11-18
Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1Yoh. 3:18)
Seorang ibu sangat marah kepada putra-nya. “Sampai mati aku tak dapat melupakan sakit hatiku!” demikian ujar si ibu. Mengapa? Apa pun alasannya tentu saja tidak ada gunanya menyimpan sakit hati. Perhatikanlah nasihat Yohanes, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya” (1Yoh. 3:15). Selain itu, apakah dengan sakit hati dan membenci dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik? Bukankah kebencian dan sakit hati adalah hal yang buruk? Bukankah wajah kita menjadi murung dan tak berseri? (Kej. 4:7). Perasaan marah, benci, sakit hati, dan dendam membuat kita gundah gulana. Hari-hari kita jalani serasa begitu ruwet. Karena itu, penting bagi kita untuk mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Hari-hari hidup kita sangat terbatas. Kesalahpahaman di dalam hidup ini sangat manusiawi. Namun hidup bahagia adalah keputusan kita. Sekarang tergantung kita masing-masing: akankah kita menyongsong hari esok dengan perasaan lega, damai dan sukacita? Ataukah kita membiarkan perasaan kita diracuni kebencian yang membuat kita tak berpengharapan? Mari kita serahkan perjalanan hidup ini dalam pertolongan Tuhan. Mari memohon kepada Tuhan agar hati kita memiliki kelegaan untuk hidup dalam kasih. Dalam kasih ada pengharapan.
REFLEKSI: Kasih bukan sekadar wacana, tetapi perbuatan.
Yer. 1:4-10;Mzm. 71:1-6;1Kor. 13:1-13;Luk. 4:21-30
Minggu, 31 Januari 2010
BENCI DAN SAKIT HATI? NO WAY! 1 Yohanes 3:11-18
Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. (1Yoh. 3:18)
Seorang ibu sangat marah kepada putra-nya. “Sampai mati aku tak dapat melupakan sakit hatiku!” demikian ujar si ibu. Mengapa? Apa pun alasannya tentu saja tidak ada gunanya menyimpan sakit hati. Perhatikanlah nasihat Yohanes, “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya” (1Yoh. 3:15). Selain itu, apakah dengan sakit hati dan membenci dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik? Bukankah kebencian dan sakit hati adalah hal yang buruk? Bukankah wajah kita menjadi murung dan tak berseri? (Kej. 4:7). Perasaan marah, benci, sakit hati, dan dendam membuat kita gundah gulana. Hari-hari kita jalani serasa begitu ruwet. Karena itu, penting bagi kita untuk mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Hari-hari hidup kita sangat terbatas. Kesalahpahaman di dalam hidup ini sangat manusiawi. Namun hidup bahagia adalah keputusan kita. Sekarang tergantung kita masing-masing: akankah kita menyongsong hari esok dengan perasaan lega, damai dan sukacita? Ataukah kita membiarkan perasaan kita diracuni kebencian yang membuat kita tak berpengharapan? Mari kita serahkan perjalanan hidup ini dalam pertolongan Tuhan. Mari memohon kepada Tuhan agar hati kita memiliki kelegaan untuk hidup dalam kasih. Dalam kasih ada pengharapan.
REFLEKSI: Kasih bukan sekadar wacana, tetapi perbuatan.
Yer. 1:4-10;Mzm. 71:1-6;1Kor. 13:1-13;Luk. 4:21-30
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



