
13 Januari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Rabu, 13 Januari 2010
HUKUM KEDUA Matius 22:37–40
“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:39)
Ketika Budi dan Hezron berkelahi, ibu guru di sekolah mencoba memisahkan mereka. Tiba-tiba sebuah bogem mentah dilayangkan oleh Budi kepada Hezron. Mengapa? “Iya Bu, tadi Hezron ‘kan mukul saya dan inilah kesempatan saya membalasnya.” Ibu guru tidak dapat berbuat apa-apa. Marah? Percuma saja. Yang penting adalah memberi penjelasan kepada Budi dan Hezron supaya mereka dapat berdamai. Di dunia ini balas-membalas kejahatan adalah hal biasa. Namun Tuhan Yesus mengajarkan hal yang berbeda. “Mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” Tentu saja tidak ada orang yang dengan sengaja tidak mengasihi dirinya sendiri. Apa pun alasannya, orang mengasihi diri sendiri. Namun orang pun harus tahu arti “mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri”. Ini hal yang penting. Dengan mengasihi orang lain, orang dapat hidup berdamai dengan orang lain. Dengan mengasihi sesama, orang dapat memiliki sukacita. Mungkin ada juga orang yang berbuat tidak baik atau jahat terhadap kita. Namun tidak berarti Firman Tuhan ini batal. Perintah mengasihi sesama senantiasa mengingatkan kita untuk tetap berbuat baik kepada orang lain. Surat 1 Yohanes 3:18 berkata, “AnakanakKu, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Untuk itu, kita harus betul-betul berpaut kepada Kristus dan memohon agar Roh-Nya menolong kita.
REFLEKSI: Mengikuti perintah Tuhan –untuk mengasihi sesama— akan membuat kita mengalami keajaiban kasih-Nya.
Mzm. 119:1-24; Kej. 4:1-16; Ibr. 2:11-18; Yoh. 1:29-42
Rabu, 13 Januari 2010
HUKUM KEDUA Matius 22:37–40
“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat. 22:39)
Ketika Budi dan Hezron berkelahi, ibu guru di sekolah mencoba memisahkan mereka. Tiba-tiba sebuah bogem mentah dilayangkan oleh Budi kepada Hezron. Mengapa? “Iya Bu, tadi Hezron ‘kan mukul saya dan inilah kesempatan saya membalasnya.” Ibu guru tidak dapat berbuat apa-apa. Marah? Percuma saja. Yang penting adalah memberi penjelasan kepada Budi dan Hezron supaya mereka dapat berdamai. Di dunia ini balas-membalas kejahatan adalah hal biasa. Namun Tuhan Yesus mengajarkan hal yang berbeda. “Mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” Tentu saja tidak ada orang yang dengan sengaja tidak mengasihi dirinya sendiri. Apa pun alasannya, orang mengasihi diri sendiri. Namun orang pun harus tahu arti “mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri”. Ini hal yang penting. Dengan mengasihi orang lain, orang dapat hidup berdamai dengan orang lain. Dengan mengasihi sesama, orang dapat memiliki sukacita. Mungkin ada juga orang yang berbuat tidak baik atau jahat terhadap kita. Namun tidak berarti Firman Tuhan ini batal. Perintah mengasihi sesama senantiasa mengingatkan kita untuk tetap berbuat baik kepada orang lain. Surat 1 Yohanes 3:18 berkata, “AnakanakKu, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Untuk itu, kita harus betul-betul berpaut kepada Kristus dan memohon agar Roh-Nya menolong kita.
REFLEKSI: Mengikuti perintah Tuhan –untuk mengasihi sesama— akan membuat kita mengalami keajaiban kasih-Nya.
Mzm. 119:1-24; Kej. 4:1-16; Ibr. 2:11-18; Yoh. 1:29-42
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



