
9 Januari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Sabtu, 9 Januari 2010
MALAIKAT KITA Yeremia 29:1-23
“... untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer. 29:11)
Homo Homini Angelus –manusia adalah malaikat terhadap sesamanya. Bagi seorang anak kecil, mungkin sekali orang tuanya adalah malaikat. Untuk seorang gadis, pasangannya dapat dianggap sebagai malaikatnya. Namun bagaimana jika seorang pendeta menganggap dirinya menjadi “malaikat” bagi jemaatnya? Wah, janganjangan keadaan malah menjadi runyam. Jadi, ungkapan itu dapat bermakna positif, tetapi juga dapat bermakna negatif, tergantung dari sudut mana orang melihatnya. Umat Israel frustrasi di pembuangan Babel. Mereka sangat lelah dan jenuh menjalani hidup menderita, selaku tawanan atau orang buangan. Dalam derita seperti itu muncul orang-orang yang memperkenalkan dirinya sebagai nabi. Sayangnya, mereka bukan nabi yang diutus Tuhan. Mereka adalah nabi-nabi palsu. Mereka seperti serigala berbulu malaikat. Karena itu, umat Israel tidak boleh tergiur oleh iming-iming mereka. Mereka harus melihat kesulitan bukan sebagai tragedi. Mereka harus melihat dari sisi lain. Di dalam kesulitan, ada rancangan Allah yang membawa mereka kepada kebaikan. Hal buruk dapat saja melanda hidup kita. Namun Allah dapat membawa kita menemukan kebaikan dari pengalaman itu. Ia tidak menjanjikan kesembuhan fisik untuk semua yang sakit. Ia juga tidak menjanjikan kekayaan bagi yang mengalami kesulitan ekonomi. Namun hikmat Tuhan membuat kita memahami bahwa ada pengharapan di balik awan gelap.
REFLEKSI: Rancangan Allah yang membawa kita kepada kebaikan.
Mzm. 121-123; Yes. 45:14-19; Kol. 1:24-2:7; Yoh. 8:12-19
Sabtu, 9 Januari 2010
MALAIKAT KITA Yeremia 29:1-23
“... untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer. 29:11)
Homo Homini Angelus –manusia adalah malaikat terhadap sesamanya. Bagi seorang anak kecil, mungkin sekali orang tuanya adalah malaikat. Untuk seorang gadis, pasangannya dapat dianggap sebagai malaikatnya. Namun bagaimana jika seorang pendeta menganggap dirinya menjadi “malaikat” bagi jemaatnya? Wah, janganjangan keadaan malah menjadi runyam. Jadi, ungkapan itu dapat bermakna positif, tetapi juga dapat bermakna negatif, tergantung dari sudut mana orang melihatnya. Umat Israel frustrasi di pembuangan Babel. Mereka sangat lelah dan jenuh menjalani hidup menderita, selaku tawanan atau orang buangan. Dalam derita seperti itu muncul orang-orang yang memperkenalkan dirinya sebagai nabi. Sayangnya, mereka bukan nabi yang diutus Tuhan. Mereka adalah nabi-nabi palsu. Mereka seperti serigala berbulu malaikat. Karena itu, umat Israel tidak boleh tergiur oleh iming-iming mereka. Mereka harus melihat kesulitan bukan sebagai tragedi. Mereka harus melihat dari sisi lain. Di dalam kesulitan, ada rancangan Allah yang membawa mereka kepada kebaikan. Hal buruk dapat saja melanda hidup kita. Namun Allah dapat membawa kita menemukan kebaikan dari pengalaman itu. Ia tidak menjanjikan kesembuhan fisik untuk semua yang sakit. Ia juga tidak menjanjikan kekayaan bagi yang mengalami kesulitan ekonomi. Namun hikmat Tuhan membuat kita memahami bahwa ada pengharapan di balik awan gelap.
REFLEKSI: Rancangan Allah yang membawa kita kepada kebaikan.
Mzm. 121-123; Yes. 45:14-19; Kol. 1:24-2:7; Yoh. 8:12-19
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



