
3 Januari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Minggu, 3 Januari 2010
PANDANGLAH! MAKA KAMU AKAN TETAP HIDUP Bilangan 21:4–9
... maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil. 21:9)
Di zaman serba sulit ini, banyak orang kena PHK. Bukan hanya bapak atau ibu yang mengalami kesulitan, tetapi anak-anak juga. Anak-anak yang prestasi belajarnya baik mungkin masih beruntung. Namun mereka yang hanya biasa-biasa saja tentu sangat sulit. Untuk ongkos transpor saja tidak cukup. Mau mengeluh, percuma. Mau mogok, tidak ada gunanya. Baik orang tua maupun anakanak dapat menjadi frustrasi. Seperti orang yang tenggelam, air sudah setinggi lehernya, antara hidup dan mati. Sungguh mengerikan! Bangsa Israel tidak tahu bersyukur kepada Tuhan. Lagi-lagi mereka bersungut-sungut. Karena itu, Tuhan mengajar mereka melalui pengalaman yang sangat mengerikan. Di mana-mana terdapat ular tedung yang ganas dan mematikan. Bagaimana mereka dapat melarikan diri? Tidak mungkin! Mereka sangat ketakutan. Akhirnya mereka meminta Musa untuk berdoa memohon pertolongan Tuhan. Tuhan mau Israel sendiri berusaha menurut cara Tuhan: menatap ular buatan Musa yang ditinggikan pada sebuah tongkat. Barangsiapa terancam kematian bisa ular tedung, jika melihat ular buatan Musa itu, ia akan tetap hidup. Sekarang terserah umat itu sendiri, mau melihatnya atau tidak. Introspeksi atau memeriksa diri sendiri sangat penting. Sadar dan berharaplah kepada Tuhan, maka tak ada yang mustahil dalam hidup ini. Bukankah kita juga telah mengalami banyak keajaiban untuk dengan sadar terus menatap dan berharap kepada-Nya?
REFLEKSI: Tanpa harapan kita tidak dapat meraih masa depan.
Yer. 31:7-14; Mzm. 147:12-20; Ef. 1:3-14; Yoh. 1:(1-9), 10-18
Minggu, 3 Januari 2010
PANDANGLAH! MAKA KAMU AKAN TETAP HIDUP Bilangan 21:4–9
... maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil. 21:9)
Di zaman serba sulit ini, banyak orang kena PHK. Bukan hanya bapak atau ibu yang mengalami kesulitan, tetapi anak-anak juga. Anak-anak yang prestasi belajarnya baik mungkin masih beruntung. Namun mereka yang hanya biasa-biasa saja tentu sangat sulit. Untuk ongkos transpor saja tidak cukup. Mau mengeluh, percuma. Mau mogok, tidak ada gunanya. Baik orang tua maupun anakanak dapat menjadi frustrasi. Seperti orang yang tenggelam, air sudah setinggi lehernya, antara hidup dan mati. Sungguh mengerikan! Bangsa Israel tidak tahu bersyukur kepada Tuhan. Lagi-lagi mereka bersungut-sungut. Karena itu, Tuhan mengajar mereka melalui pengalaman yang sangat mengerikan. Di mana-mana terdapat ular tedung yang ganas dan mematikan. Bagaimana mereka dapat melarikan diri? Tidak mungkin! Mereka sangat ketakutan. Akhirnya mereka meminta Musa untuk berdoa memohon pertolongan Tuhan. Tuhan mau Israel sendiri berusaha menurut cara Tuhan: menatap ular buatan Musa yang ditinggikan pada sebuah tongkat. Barangsiapa terancam kematian bisa ular tedung, jika melihat ular buatan Musa itu, ia akan tetap hidup. Sekarang terserah umat itu sendiri, mau melihatnya atau tidak. Introspeksi atau memeriksa diri sendiri sangat penting. Sadar dan berharaplah kepada Tuhan, maka tak ada yang mustahil dalam hidup ini. Bukankah kita juga telah mengalami banyak keajaiban untuk dengan sadar terus menatap dan berharap kepada-Nya?
REFLEKSI: Tanpa harapan kita tidak dapat meraih masa depan.
Yer. 31:7-14; Mzm. 147:12-20; Ef. 1:3-14; Yoh. 1:(1-9), 10-18
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



