
13 Mei 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Kamis, 13 Mei 2010
Kita terkadang mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa memikirkan dampak dari perkataan atau tindakan kita itu secara mendalam. Akibatnya kita tidak siap menghadapi ketika perkataan atau (Daniel 5:6) sikap kita itu mendatangkan hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita menjadi grogi dan lalu panik, tak tahu mesti berbuat apa. Kalau sudah tiba pada titik seperti ini, maka menyesal pun tidak lagi terlalu berarti. Risiko sudah di depan mata, dan kita tidak dapat lagi mengubahnya. Semua sudah terlambat. Kesembarangan dalam bertindak inilah yang diperagakan oleh Belsyazar. Perintahnya untuk mengambil perkakas emas dan perak yang berasal dari Bait Suci itu ternyata tidak lahir dari pertimbangan yang matang. Seperti sudah kita baca kemarin, perintah ini adalah keputusan sembarangan, yang lahir dalam keadaan mabuk. Tapi entah sembarangan atau matang keputusan itu, itu tetap sebuah keputusan yang memiliki konsekuensi. Ketika sikap sudah ditetapkan dan keputusan dilaksanakan, maka itu tidak bisa lagi ditarik kembali, seolah-olah tidak pernah terjadi. Akibat dari keputusan itu, tidak bisa lagi dicegah. Setiap aksi kemungkinan besar memang melahirkan reaksi. Dan Belsyazar mengalami hal ini. “Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan” (Daniel 5:6). Kini tinggal kegentaran yang tersisa. Teens, daripada mesti lemas menghadapi konsekuensi destruktif dari perkataan atau tindakan kita, lebih baik kita mempertimbangkan dengan matang setiap perkataan yang hendak kita ucapkan dan tindakan yang hendak kita lakukan. Jangan sampai, ketika kita sedang bingung menanggung akibat dari perkataan atau perbuatan kita, orang lain lalu berkata dengan sinis: “Makanya, jangan sembarangan!”
Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan.
Makanya Jangan Sembarangan!
Daniel 5:5-9
T k d uh r i i eak ai n:
14
Kamis, 13 Mei 2010
Kita terkadang mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa memikirkan dampak dari perkataan atau tindakan kita itu secara mendalam. Akibatnya kita tidak siap menghadapi ketika perkataan atau (Daniel 5:6) sikap kita itu mendatangkan hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kita menjadi grogi dan lalu panik, tak tahu mesti berbuat apa. Kalau sudah tiba pada titik seperti ini, maka menyesal pun tidak lagi terlalu berarti. Risiko sudah di depan mata, dan kita tidak dapat lagi mengubahnya. Semua sudah terlambat. Kesembarangan dalam bertindak inilah yang diperagakan oleh Belsyazar. Perintahnya untuk mengambil perkakas emas dan perak yang berasal dari Bait Suci itu ternyata tidak lahir dari pertimbangan yang matang. Seperti sudah kita baca kemarin, perintah ini adalah keputusan sembarangan, yang lahir dalam keadaan mabuk. Tapi entah sembarangan atau matang keputusan itu, itu tetap sebuah keputusan yang memiliki konsekuensi. Ketika sikap sudah ditetapkan dan keputusan dilaksanakan, maka itu tidak bisa lagi ditarik kembali, seolah-olah tidak pernah terjadi. Akibat dari keputusan itu, tidak bisa lagi dicegah. Setiap aksi kemungkinan besar memang melahirkan reaksi. Dan Belsyazar mengalami hal ini. “Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan” (Daniel 5:6). Kini tinggal kegentaran yang tersisa. Teens, daripada mesti lemas menghadapi konsekuensi destruktif dari perkataan atau tindakan kita, lebih baik kita mempertimbangkan dengan matang setiap perkataan yang hendak kita ucapkan dan tindakan yang hendak kita lakukan. Jangan sampai, ketika kita sedang bingung menanggung akibat dari perkataan atau perbuatan kita, orang lain lalu berkata dengan sinis: “Makanya, jangan sembarangan!”
Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan.
Makanya Jangan Sembarangan!
Daniel 5:5-9
T k d uh r i i eak ai n:
14
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



