
8 April 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Kamis, 8 April 2010
Takut? Boleh, kok!
Berdua lebih baik dari pada seorang diri ... Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya .... (Pengkhotbah 4:9-10)
Hakim-hakim 4:1-9
Takut biasanya kita hubungkan dengan sifat atau perbuatan yang dilakukan anak kecil. Takut tidur sendiri, misalnya. Atau takut kegelapan. Atau takut ke kamar mandi tanpa ditemani. Atau takut tidak punya teman. Saat kita beranjak remaja, ketakutan-ketakutan seperti itu dengan sendirinya melenyap pergi. Kalau masih ada teman-teman remaja kita yang takut terhadap ini dan itu seperti contoh di atas, biasanya kita melekatkan ejekan “penakut” pada mereka. Namun, sungguhkah takut hanya menjadi urusan anak kecil? Bacaan kita hari ini mengajar kita untuk tidak menyepelekan mereka yang takut terhadap sesuatu. Sebab Barak yang seharusnya berperang melawan Sisera jelas bukan anak kecil lagi. Ia bahkan adalah seorang laki-laki dewasa. Tapi, hebatnya, ia tidak malu atau ragu atau takut diejek ketika mengungkapkan ketakutannya. Katanya, “Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju” (ayat 8). Dan, simak baik-baik, Teens, Tuhan tidak marah terhadap Barak. Ia tidak membatalkan perintah-Nya pada Barak. Tuhan bahkan menjawab rasa takut Barak dengan memberinya teman untuk maju perang, yaitu Debora. Barak dan Debora selanjutnya bersama-sama memimpin peperangan. Teens, merasa takut bukanlah sebuah kesalahan. Tapi, rasa takut akan memunculkan kesalahan jika kita membiarkannya tanpa penyelesaian. Ketika Barak takut memimpin perang sendiri, ia meminta Debora untuk menemaninya. Ketika kita takut tersesat di sebuah tempat asing, kita bisa minta bantuan orang tua kita untuk menemani. Ketika kita takut menghadapi ulangan, kita bisa mengajak beberapa teman untuk belajar bersama. Jangan lupa, takut is okay. Yang penting, kenalilah penyebab rasa takutmu, lalu carilah penyelesaiannya.
T k d uh r i i eak ai n:
50
Kamis, 8 April 2010
Takut? Boleh, kok!
Berdua lebih baik dari pada seorang diri ... Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya .... (Pengkhotbah 4:9-10)
Hakim-hakim 4:1-9
Takut biasanya kita hubungkan dengan sifat atau perbuatan yang dilakukan anak kecil. Takut tidur sendiri, misalnya. Atau takut kegelapan. Atau takut ke kamar mandi tanpa ditemani. Atau takut tidak punya teman. Saat kita beranjak remaja, ketakutan-ketakutan seperti itu dengan sendirinya melenyap pergi. Kalau masih ada teman-teman remaja kita yang takut terhadap ini dan itu seperti contoh di atas, biasanya kita melekatkan ejekan “penakut” pada mereka. Namun, sungguhkah takut hanya menjadi urusan anak kecil? Bacaan kita hari ini mengajar kita untuk tidak menyepelekan mereka yang takut terhadap sesuatu. Sebab Barak yang seharusnya berperang melawan Sisera jelas bukan anak kecil lagi. Ia bahkan adalah seorang laki-laki dewasa. Tapi, hebatnya, ia tidak malu atau ragu atau takut diejek ketika mengungkapkan ketakutannya. Katanya, “Jika engkau turut maju aku pun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju” (ayat 8). Dan, simak baik-baik, Teens, Tuhan tidak marah terhadap Barak. Ia tidak membatalkan perintah-Nya pada Barak. Tuhan bahkan menjawab rasa takut Barak dengan memberinya teman untuk maju perang, yaitu Debora. Barak dan Debora selanjutnya bersama-sama memimpin peperangan. Teens, merasa takut bukanlah sebuah kesalahan. Tapi, rasa takut akan memunculkan kesalahan jika kita membiarkannya tanpa penyelesaian. Ketika Barak takut memimpin perang sendiri, ia meminta Debora untuk menemaninya. Ketika kita takut tersesat di sebuah tempat asing, kita bisa minta bantuan orang tua kita untuk menemani. Ketika kita takut menghadapi ulangan, kita bisa mengajak beberapa teman untuk belajar bersama. Jangan lupa, takut is okay. Yang penting, kenalilah penyebab rasa takutmu, lalu carilah penyelesaiannya.
T k d uh r i i eak ai n:
50
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



