
2 April 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Jumat, 2 April 2010
Bukan “Pengejek yang Sepadan”
Punya teman-teman yang “nyambung” jelas menyenangkan. Kita bisa saling bertukar pendapat tentang berbagai macam hal: Mulai dari soal pelajaran di sekolah sampai urusan “Apakah menurutmu, aku pantas memakai baju berwarna oranye seperti ini?” atau “Mana yang lebih kamu suka: Manchester United atau Chelsea?” Ternyata bukan baru sekarang manusia membutuhkan teman-teman yang “nyambung”. Sejak manusia diciptakan kebutuhan ini sudah dirasakan. Menurut bacaan kita, sekalipun manusia mempunyai kesempatan untuk berkenalan dan ber-”akrab-ria” dengan macam-macam hewan (bdk. “memberi nama” – ayat 19-20), tetap saja ia diberitakan “tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.” Ini berarti, walaupun Tuhan tidak melarang kita memiliki dan menyayangi hewan peliharaan kita: anjing, kucing, kura-kura, hamster, ikan, dll., namun Tuhan sesungguhnya menjadikan dan menyediakan sesama manusia – laki-laki dan perempuan – untuk menjadi “penolong yang sepadan” (bdk. ayat 20) bagi kita. Apa maksudnya “penolong yang sepadan”? Jika kata “sepadan” dijelaskan sebagai “sebanding dengan” atau “serasi dengan”, maka sebutan “penolong yang sepadan” menjelaskan bahwa kita dan sesama kita – laki-laki dan perempuan – sebanding atau serasi untuk menjadi penolong, satu terhadap yang lain. Artinya, pada suatu saat kita berada pada posisi penolong, tapi pada kesempatan lain kitalah yang membutuhkan pertolongan. Jadi, penolong tidak lebih tinggi daripada yang ditolong. Demikian pula penolong tidak lebih rendah daripada yang ditolong. Teens, Tuhan menjadikan kita sebagai “penolong yang sepadan”. Ini berarti Tuhan tidak menjadikan kita sebagai “pengejek yang sepadan” atau “pengumpat yang sepadan”. Jangan lupakan hal ini, ya!
(Kejadian 2:20) ... tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
Kejadian 2:18-22
T k d uh r i i eak ai n:
44
Jumat, 2 April 2010
Bukan “Pengejek yang Sepadan”
Punya teman-teman yang “nyambung” jelas menyenangkan. Kita bisa saling bertukar pendapat tentang berbagai macam hal: Mulai dari soal pelajaran di sekolah sampai urusan “Apakah menurutmu, aku pantas memakai baju berwarna oranye seperti ini?” atau “Mana yang lebih kamu suka: Manchester United atau Chelsea?” Ternyata bukan baru sekarang manusia membutuhkan teman-teman yang “nyambung”. Sejak manusia diciptakan kebutuhan ini sudah dirasakan. Menurut bacaan kita, sekalipun manusia mempunyai kesempatan untuk berkenalan dan ber-”akrab-ria” dengan macam-macam hewan (bdk. “memberi nama” – ayat 19-20), tetap saja ia diberitakan “tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.” Ini berarti, walaupun Tuhan tidak melarang kita memiliki dan menyayangi hewan peliharaan kita: anjing, kucing, kura-kura, hamster, ikan, dll., namun Tuhan sesungguhnya menjadikan dan menyediakan sesama manusia – laki-laki dan perempuan – untuk menjadi “penolong yang sepadan” (bdk. ayat 20) bagi kita. Apa maksudnya “penolong yang sepadan”? Jika kata “sepadan” dijelaskan sebagai “sebanding dengan” atau “serasi dengan”, maka sebutan “penolong yang sepadan” menjelaskan bahwa kita dan sesama kita – laki-laki dan perempuan – sebanding atau serasi untuk menjadi penolong, satu terhadap yang lain. Artinya, pada suatu saat kita berada pada posisi penolong, tapi pada kesempatan lain kitalah yang membutuhkan pertolongan. Jadi, penolong tidak lebih tinggi daripada yang ditolong. Demikian pula penolong tidak lebih rendah daripada yang ditolong. Teens, Tuhan menjadikan kita sebagai “penolong yang sepadan”. Ini berarti Tuhan tidak menjadikan kita sebagai “pengejek yang sepadan” atau “pengumpat yang sepadan”. Jangan lupakan hal ini, ya!
(Kejadian 2:20) ... tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
Kejadian 2:18-22
T k d uh r i i eak ai n:
44
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



