
4 Maret 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Kamis, 4 Maret 2010
Fanatisme
Kisah Para Rasul 8:1-3
Fanatisme adalah sebuah keadaan di mana seseorang atau sekelompok orang menganut suatu keyakinan yang berlebihan terhadap suatu paham (Matius 22:39) (politik, agama dan sebagainya). Orang yang fanatik kurang bisa menerima perbedaan dan biasanya berperilaku militan yang membabi buta. Fanatisme dapat menimbulkan konflik, tawuran dan teror. Saulus adalah seorang yang sangat fanatik. Ia fanatik terhadap agama Yahudi. Kendatipun ia lahir di kota Tarsus (Kis. 22:3) dan berwarga negara Romawi (Kis. 16:37), tetapi ia menyebut dirinya “orang Ibrani asli” dan “orang Farisi” (Flp. 3:5). Ia setuju dengan pembunuhan Stefanus (Kis 8:1a). Kemudian ia berusaha membinasakan orang-orang Kristen (Kis. 8:3a). Fanatisme telah menyebabkan Saulus menjadi seorang militan. Ia memasuki rumah demi rumah untuk menyeret laki-laki dan perempuan ke luar, kemudian menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (Kis. 8:3b). Dengan tanpa batas ia menganiaya orang-orang Kristen (Gal. 1:13b), dan adakalanya menganiaya mereka sampai mati (Kis. 22:4). Fanatisme telah menyeret Saulus pada sikap militan yang disesalinya di kemudian hari. Setelah empat belas tahun bertobat, ia berkata: “Aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah” (1Kor. 15:9). Setelah mengikut Kristus sekitar tiga puluh tahun, ia menyesal telah menjadi seorang yang ganas (1Tim. 1:13), serta menyebut dirinya orang yang paling berdosa di antara orang berdosa (1Tim. 1:15). Teens, janganlah kamu memiliki fanatisme terhadap apa pun. Beriman teguh tidak identik dengan fanatisme. Sebab orang yang beriman teguh justru memiliki kehendak yang kuat untuk melakukan perintah Allah; dan perintahNya yang utama adalah mengasihi (Mat. 22:37-40), termasuk mengasihi musuh (Luk. 6:27).
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
T k d uh r i i eak ai n:
5
Kamis, 4 Maret 2010
Fanatisme
Kisah Para Rasul 8:1-3
Fanatisme adalah sebuah keadaan di mana seseorang atau sekelompok orang menganut suatu keyakinan yang berlebihan terhadap suatu paham (Matius 22:39) (politik, agama dan sebagainya). Orang yang fanatik kurang bisa menerima perbedaan dan biasanya berperilaku militan yang membabi buta. Fanatisme dapat menimbulkan konflik, tawuran dan teror. Saulus adalah seorang yang sangat fanatik. Ia fanatik terhadap agama Yahudi. Kendatipun ia lahir di kota Tarsus (Kis. 22:3) dan berwarga negara Romawi (Kis. 16:37), tetapi ia menyebut dirinya “orang Ibrani asli” dan “orang Farisi” (Flp. 3:5). Ia setuju dengan pembunuhan Stefanus (Kis 8:1a). Kemudian ia berusaha membinasakan orang-orang Kristen (Kis. 8:3a). Fanatisme telah menyebabkan Saulus menjadi seorang militan. Ia memasuki rumah demi rumah untuk menyeret laki-laki dan perempuan ke luar, kemudian menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara (Kis. 8:3b). Dengan tanpa batas ia menganiaya orang-orang Kristen (Gal. 1:13b), dan adakalanya menganiaya mereka sampai mati (Kis. 22:4). Fanatisme telah menyeret Saulus pada sikap militan yang disesalinya di kemudian hari. Setelah empat belas tahun bertobat, ia berkata: “Aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah” (1Kor. 15:9). Setelah mengikut Kristus sekitar tiga puluh tahun, ia menyesal telah menjadi seorang yang ganas (1Tim. 1:13), serta menyebut dirinya orang yang paling berdosa di antara orang berdosa (1Tim. 1:15). Teens, janganlah kamu memiliki fanatisme terhadap apa pun. Beriman teguh tidak identik dengan fanatisme. Sebab orang yang beriman teguh justru memiliki kehendak yang kuat untuk melakukan perintah Allah; dan perintahNya yang utama adalah mengasihi (Mat. 22:37-40), termasuk mengasihi musuh (Luk. 6:27).
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
T k d uh r i i eak ai n:
5
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



