
3 Maret 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Rabu, 3 Maret 2010
Mengampuni
Teens, kamu tentu sering mendengarkan ajaran tentang pengampunan di rumah, gereja, ataupun sekolah. Tetapi praktik mengampuni itu memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Ada yang mau mengampuni, tetapi tidak mampu (Efesus 4:32) mengampuni. Ada yang mampu mengampuni, tetapi tidak mau mengampuni. Stefanus adalah seorang pelayan Tuhan yang telah melakukan banyak kebaikan kepada sesamanya, tetapi ada juga yang tidak suka kepadanya. Orang-orang Yahudi yang membenci kekristenan berusaha membunuhnya. Mula-mula mereka membayar saksisaksi palsu untuk mempersalahkannya. Kemudian mereka mengendalikan massa untuk menentangnya. Terakhir mereka menjatuhkan hukuman mati terhadap dia. Stefanus diseret keluar kota, dan dilempari dengan batu. Apakah saat itu ia mencaci maki mereka? Tidak! Pada saat dianiaya, sebelum meninggal, ia justru berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Stefanus mau dan mampu mengampuni orang-orang yang menganiaya dirinya. Ia berdoa untuk memohonkan pengampunan bagi mereka. Hal ini dikarenakan pandangannya tidak hanya ditujukan kepada kesalahan orangorang lain terhadapnya, melainkan kepada Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang mengasihinya. Saat itu kasih Kristus memenuhi hatinya, ajaran-Nya menguasai pikirannya, dan teladan pengampunan-Nya mengarahkan tindakannya. Itu sebabnya Stefanus bisa mengampuni. Teens, mengampuni seseorang itu memang tidak gampang. Apalagi bila orang tersebut sudah menyakiti hatimu. Belajarlah dari Stefanus. Jangan hanya mengarahkan pandangan kepada orang-orang yang bersalah serta kesalahan mereka, melainkan kepada Kristus yang mengasihi dan mengampuni. Niscaya kamu dapat dan mau mengampuni.
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Kisah Para Rasul 7:54-60
T k d uh r i i eak ai n:
4
Rabu, 3 Maret 2010
Mengampuni
Teens, kamu tentu sering mendengarkan ajaran tentang pengampunan di rumah, gereja, ataupun sekolah. Tetapi praktik mengampuni itu memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Ada yang mau mengampuni, tetapi tidak mampu (Efesus 4:32) mengampuni. Ada yang mampu mengampuni, tetapi tidak mau mengampuni. Stefanus adalah seorang pelayan Tuhan yang telah melakukan banyak kebaikan kepada sesamanya, tetapi ada juga yang tidak suka kepadanya. Orang-orang Yahudi yang membenci kekristenan berusaha membunuhnya. Mula-mula mereka membayar saksisaksi palsu untuk mempersalahkannya. Kemudian mereka mengendalikan massa untuk menentangnya. Terakhir mereka menjatuhkan hukuman mati terhadap dia. Stefanus diseret keluar kota, dan dilempari dengan batu. Apakah saat itu ia mencaci maki mereka? Tidak! Pada saat dianiaya, sebelum meninggal, ia justru berdoa, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Stefanus mau dan mampu mengampuni orang-orang yang menganiaya dirinya. Ia berdoa untuk memohonkan pengampunan bagi mereka. Hal ini dikarenakan pandangannya tidak hanya ditujukan kepada kesalahan orangorang lain terhadapnya, melainkan kepada Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang mengasihinya. Saat itu kasih Kristus memenuhi hatinya, ajaran-Nya menguasai pikirannya, dan teladan pengampunan-Nya mengarahkan tindakannya. Itu sebabnya Stefanus bisa mengampuni. Teens, mengampuni seseorang itu memang tidak gampang. Apalagi bila orang tersebut sudah menyakiti hatimu. Belajarlah dari Stefanus. Jangan hanya mengarahkan pandangan kepada orang-orang yang bersalah serta kesalahan mereka, melainkan kepada Kristus yang mengasihi dan mengampuni. Niscaya kamu dapat dan mau mengampuni.
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Kisah Para Rasul 7:54-60
T k d uh r i i eak ai n:
4
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



