
3 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Rabu, 3 Februari 2010
Memelihara Keluarga
Kejadian 45:9-15
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Hidup adalah belajar mengasihi. Tujuan hidup kita yang utama bukanlah mengumpulkan harta, (Matius 22:39b) mencari status, ataupun meraih kesuksesan. Semua itu adalah masalah sekunder (bd. Mat. 6:33). Hidup adalah belajar mengasihi dan membina hubungan dengan Allah dan sesama. Yesus menyebutnya perintah yang terutama (Matius 22:38-40). Orang yang mengasihi Allah dan sesama tentulah tidak akan mengabaikan keluarganya. Hal ini dapat kita lihat dalam diri Yusuf. Meskipun ia pernah diperlakukan tidak baik oleh keluarganya, tetapi ia tetap mengasihi mereka. Setelah ia memiliki kehidupan yang baik dan berkecukupan, ia mau memelihara keluarganya yang sedang kesulitan pangan. Ia meminta saudara-saudaranya membawa ayah dan seluruh keluarga mereka ke Mesir agar ia dapat memelihara mereka, sebab bencana kelaparan masih lima tahun lagi. Yusuf yang telah mengalami kasih Allah, mengaplikasikan kasih Allah itu untuk memelihara keluarganya. Ia berusaha memberikan yang terbaik di dalam memelihara keluarganya. Ia berencana menempatkan mereka di tanah Gosyen. Selain dekat dengan tempat Yusuf melayani Firaun, tanah Gosyen adalah suatu daerah yang subur dan sangat cocok untuk beternak (Kej. 45:10; bd. 47:1, 4, 6, 27). Yusuf menghendaki agar komunikasi dengan keluarganya dapat berjalan baik dan usaha peternakan mereka juga dapat berjalan lancar. Teens, memelihara keluarga merupakan tanggung jawab anak-anak juga, bukan hanya tanggung jawab orang tua. Anak-anak dibesarkan supaya menjadi dewasa dan dapat hidup dengan baik. Kendatipun sesudah dewasa kamu dapat hidup mandiri, tetapi janganlah melupakan keluargamu. Kamu pun memiliki tanggung jawab untuk memelihara keluarga. Hendaklah memelihara keluarga itu kamu lakukan dengan kasih, bukan karena terpaksa.
T k d uh r i i eak ai n:
47
Rabu, 3 Februari 2010
Memelihara Keluarga
Kejadian 45:9-15
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Hidup adalah belajar mengasihi. Tujuan hidup kita yang utama bukanlah mengumpulkan harta, (Matius 22:39b) mencari status, ataupun meraih kesuksesan. Semua itu adalah masalah sekunder (bd. Mat. 6:33). Hidup adalah belajar mengasihi dan membina hubungan dengan Allah dan sesama. Yesus menyebutnya perintah yang terutama (Matius 22:38-40). Orang yang mengasihi Allah dan sesama tentulah tidak akan mengabaikan keluarganya. Hal ini dapat kita lihat dalam diri Yusuf. Meskipun ia pernah diperlakukan tidak baik oleh keluarganya, tetapi ia tetap mengasihi mereka. Setelah ia memiliki kehidupan yang baik dan berkecukupan, ia mau memelihara keluarganya yang sedang kesulitan pangan. Ia meminta saudara-saudaranya membawa ayah dan seluruh keluarga mereka ke Mesir agar ia dapat memelihara mereka, sebab bencana kelaparan masih lima tahun lagi. Yusuf yang telah mengalami kasih Allah, mengaplikasikan kasih Allah itu untuk memelihara keluarganya. Ia berusaha memberikan yang terbaik di dalam memelihara keluarganya. Ia berencana menempatkan mereka di tanah Gosyen. Selain dekat dengan tempat Yusuf melayani Firaun, tanah Gosyen adalah suatu daerah yang subur dan sangat cocok untuk beternak (Kej. 45:10; bd. 47:1, 4, 6, 27). Yusuf menghendaki agar komunikasi dengan keluarganya dapat berjalan baik dan usaha peternakan mereka juga dapat berjalan lancar. Teens, memelihara keluarga merupakan tanggung jawab anak-anak juga, bukan hanya tanggung jawab orang tua. Anak-anak dibesarkan supaya menjadi dewasa dan dapat hidup dengan baik. Kendatipun sesudah dewasa kamu dapat hidup mandiri, tetapi janganlah melupakan keluargamu. Kamu pun memiliki tanggung jawab untuk memelihara keluarga. Hendaklah memelihara keluarga itu kamu lakukan dengan kasih, bukan karena terpaksa.
T k d uh r i i eak ai n:
47
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



