
6 Januari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Rabu, 6 Januari 2010
Penjajahan Budaya
Galatia 2:1-10
Sepasang suami isteri berdiri di depan altar untuk mengikuti Sakramen Baptisan anak mereka. Pastor pun bertanya, “Nama apa yang hendak kalian berikan kepada anak ini?” Ibunya menjawab dengan bangga, “Peter Xavier Timothy Richard Albert Daniel (Galatia 2:3) Benedictus Sean Barton.” Sang Pastor hanya bisa menggaruk kepala, karena nama anaknya terlalu panjang. Teens, cerita di atas merupakan salah satu contoh sederhana, tentang pengaruh budaya asing, yaitu soal nama. Mungkin banyak di antara kamu juga yang menggunakan nama asing, bukan? Orang bilang sih kedengarannya lebih keren. Itu baru salah satu hal kecil, tentang pengaruh budaya asing. Belum lagi soal cara berpakaian, soal makanan cepat saji dan dunia hiburan. Ternyata sebagian besar dari kita dipengaruhi oleh budaya barat, bukan? Memang semua itu terjadi tanpa paksaan, melainkan karena promosi yang terencana dengan apik. Teens, ketika Titus, seorang Yunani, hidup bersama dengan Paulus, ia tidak pernah dipaksa untuk mengikuti adat istiadat Yahudi, seperti disunat. Paulus meyakini bahwa sesungguhnya untuk beriman kepada Yesus Kristus, seseorang tidak harus menjadi Yahudi. Di hadapan para rasul yang lain, Paulus meyakinkan bahwa ia diutus oleh Tuhan justru untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, alias orang-orang yang tak bersunat. Bahkan secara tegas Paulus menyatakan bahwa yang terpenting bukanlah sunat lahiriah, melainkan sunat hati. Teens, ketika kita menerima Kristus dan menjadi Kristen, itu tidak berarti kita harus menjadi seperti Israel ataupun bersikap seperti orang bule. Sebagai orang Indonesia, tentulah kita hidup dengan budaya bangsa kita sendiri. Persoalannya adalah apakah kita tetap bangga dan menghargai budaya kita sendiri? Masihkah kita memahami dan menjalani hidup sebagai orang Indonesia? Ataukah kita mulai kehilangan identitas diri kita? Jangan-jangan kita sedang mengalami penjajahan budaya.
Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.
T k d uh r i i eak ai n:
7
Rabu, 6 Januari 2010
Penjajahan Budaya
Galatia 2:1-10
Sepasang suami isteri berdiri di depan altar untuk mengikuti Sakramen Baptisan anak mereka. Pastor pun bertanya, “Nama apa yang hendak kalian berikan kepada anak ini?” Ibunya menjawab dengan bangga, “Peter Xavier Timothy Richard Albert Daniel (Galatia 2:3) Benedictus Sean Barton.” Sang Pastor hanya bisa menggaruk kepala, karena nama anaknya terlalu panjang. Teens, cerita di atas merupakan salah satu contoh sederhana, tentang pengaruh budaya asing, yaitu soal nama. Mungkin banyak di antara kamu juga yang menggunakan nama asing, bukan? Orang bilang sih kedengarannya lebih keren. Itu baru salah satu hal kecil, tentang pengaruh budaya asing. Belum lagi soal cara berpakaian, soal makanan cepat saji dan dunia hiburan. Ternyata sebagian besar dari kita dipengaruhi oleh budaya barat, bukan? Memang semua itu terjadi tanpa paksaan, melainkan karena promosi yang terencana dengan apik. Teens, ketika Titus, seorang Yunani, hidup bersama dengan Paulus, ia tidak pernah dipaksa untuk mengikuti adat istiadat Yahudi, seperti disunat. Paulus meyakini bahwa sesungguhnya untuk beriman kepada Yesus Kristus, seseorang tidak harus menjadi Yahudi. Di hadapan para rasul yang lain, Paulus meyakinkan bahwa ia diutus oleh Tuhan justru untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi, alias orang-orang yang tak bersunat. Bahkan secara tegas Paulus menyatakan bahwa yang terpenting bukanlah sunat lahiriah, melainkan sunat hati. Teens, ketika kita menerima Kristus dan menjadi Kristen, itu tidak berarti kita harus menjadi seperti Israel ataupun bersikap seperti orang bule. Sebagai orang Indonesia, tentulah kita hidup dengan budaya bangsa kita sendiri. Persoalannya adalah apakah kita tetap bangga dan menghargai budaya kita sendiri? Masihkah kita memahami dan menjalani hidup sebagai orang Indonesia? Ataukah kita mulai kehilangan identitas diri kita? Jangan-jangan kita sedang mengalami penjajahan budaya.
Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya.
T k d uh r i i eak ai n:
7
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



