
15 Juni 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Selasa, 15 Juni 2010
PEMBAWA DAMAI
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
(Ibrani 12:14)
Pada saat istirahat, Badu dan Bandi sedang berbicara di dalam kelas. Ketika melihat Edo masuk, mereka merencanakan sesuatu yang membuat dia kesal. “Negro… Negro…! Kok diam saja, nggak mau menjawab kita?” seru Bandi meledek Edo. Edo berusaha menahan diri mendengar ledekan mereka. “Negro… kamu belum makan ya? Pantas saja diam, habisnya belum makan, jadi nggak punya tenaga. Negro, kamu tidak punya uang ya?” ledek Badu sambil tertawa. Akhirnya, Edo kesal. “Braakkkk…” pukul Edo ke meja dan berjalan mendekati mereka. Sebelum Edo mendekat, Didi menghalangi Edo. “Sabar, Do! Tidak perlu membalas. Mereka akan merasa senang bila kamu marah. Berarti, kamu kalah. Tapi, bila kamu bisa menahan diri dan tidak marah, kamu adalah pemenang. Sebab kamu telah berhasil menciptakan keadaan damai, sekalipun diejek oleh teman. Kamu adalah pembawa damai,” kata Didi menenangkan. Adik-adik, coba kita baca Ibrani 12:14-17. Sebagai pengikut Yesus, orang-orang di Ibrani harus selalu menjadi teladan dalam melakukan kehendak Allah. Perbuatan mereka hendaknya memperlihatkan kasih. Sikap dan tindakan mereka sebaiknya menciptakan perdamaian bagi semua orang. Jadi Adik-adik, mari kita menjadi pembawa damai dalam kehidupan kita. Perkataan kita menenangkan teman-teman yang kesal dan marah. Perbuatan kita menghubungkan kembali teman yang sedang berkelahi.
Doa:
Bapa, mampukan aku menjadi pembawa damai bagi semua orang. Dalam nama Tuhan Yesus, aku memohon. Amin.
Selasa, 15 Juni 2010
PEMBAWA DAMAI
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
(Ibrani 12:14)
Pada saat istirahat, Badu dan Bandi sedang berbicara di dalam kelas. Ketika melihat Edo masuk, mereka merencanakan sesuatu yang membuat dia kesal. “Negro… Negro…! Kok diam saja, nggak mau menjawab kita?” seru Bandi meledek Edo. Edo berusaha menahan diri mendengar ledekan mereka. “Negro… kamu belum makan ya? Pantas saja diam, habisnya belum makan, jadi nggak punya tenaga. Negro, kamu tidak punya uang ya?” ledek Badu sambil tertawa. Akhirnya, Edo kesal. “Braakkkk…” pukul Edo ke meja dan berjalan mendekati mereka. Sebelum Edo mendekat, Didi menghalangi Edo. “Sabar, Do! Tidak perlu membalas. Mereka akan merasa senang bila kamu marah. Berarti, kamu kalah. Tapi, bila kamu bisa menahan diri dan tidak marah, kamu adalah pemenang. Sebab kamu telah berhasil menciptakan keadaan damai, sekalipun diejek oleh teman. Kamu adalah pembawa damai,” kata Didi menenangkan. Adik-adik, coba kita baca Ibrani 12:14-17. Sebagai pengikut Yesus, orang-orang di Ibrani harus selalu menjadi teladan dalam melakukan kehendak Allah. Perbuatan mereka hendaknya memperlihatkan kasih. Sikap dan tindakan mereka sebaiknya menciptakan perdamaian bagi semua orang. Jadi Adik-adik, mari kita menjadi pembawa damai dalam kehidupan kita. Perkataan kita menenangkan teman-teman yang kesal dan marah. Perbuatan kita menghubungkan kembali teman yang sedang berkelahi.
Doa:
Bapa, mampukan aku menjadi pembawa damai bagi semua orang. Dalam nama Tuhan Yesus, aku memohon. Amin.
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



