
4 Mei 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Selasa, 4 Mei 2010
BERANI MENGAKU SALAH
“Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir ....”
(Yesaya 6:5)
“Anak-anak, siapa di antara kalian yang pernah melakukan kesalahan. Misalnya mengganggu adik sampai menangis, atau berbohong pada Orang Tua?” tanya Pak Tino, guru Agama suatu kali. Tidak ada seorang anak pun yang berani mengangkat tangan. Sambil tersenyum Pak Tino berkata, “Wah... anak-anak di sini baik-baik semua, ya! Tidak ada seorang pun yang berbuat salah. Hebaaat!” Kemudian dengan perlahan Anto mengangkat tangan. “Ya, Anto!” kata Pak Tino. “Sa..saya kemarin makan jatah jajan adik, sehingga adik saya menangis...,” kata Anto tersipu. Semua anak di kelas tertawa. “Lho, mengapa ditertawakan? Justru sikap Anto inilah yang benar, berani mengakui kesalahan. Dan orang yang berani mengakui kesalahan dan dosa justru akan mendapat pengampunan,” kata Pak Tino menjelaskan. Adik-adik, sering kali kita bersikap tidak mau mengakui kesalahan. Bahkan kita tidak segan-segan menyembunyikan kesalahan agar orang lain tidak mengetahui kesalahan itu. Padahal tidak ada satu kesalahan pun yang dapat disembunyikan di hadapan Tuhan. Sikap yang benar adalah berani mengakui kesalahan, kelemahan dan dosa di hadapan Tuhan. Yuk, kita membaca Kitab Yesaya 6:1-7. Di dalam perikop tersebut, Nabi Yesaya mengaku bahwa dirinya dipenuhi dengan dosa dan merasa tidak layak berada di hadapan Tuhan yang kudus (ayat 5) dan pengakuan tersebut membuat Yesaya mendapat pengampunan dari Tuhan (ayat 7).
Doa:
Bapa di sorga, ampunilah aku yang telah berlaku dosa di hadapan-Mu. Aku memohon dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Selasa, 4 Mei 2010
BERANI MENGAKU SALAH
“Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir ....”
(Yesaya 6:5)
“Anak-anak, siapa di antara kalian yang pernah melakukan kesalahan. Misalnya mengganggu adik sampai menangis, atau berbohong pada Orang Tua?” tanya Pak Tino, guru Agama suatu kali. Tidak ada seorang anak pun yang berani mengangkat tangan. Sambil tersenyum Pak Tino berkata, “Wah... anak-anak di sini baik-baik semua, ya! Tidak ada seorang pun yang berbuat salah. Hebaaat!” Kemudian dengan perlahan Anto mengangkat tangan. “Ya, Anto!” kata Pak Tino. “Sa..saya kemarin makan jatah jajan adik, sehingga adik saya menangis...,” kata Anto tersipu. Semua anak di kelas tertawa. “Lho, mengapa ditertawakan? Justru sikap Anto inilah yang benar, berani mengakui kesalahan. Dan orang yang berani mengakui kesalahan dan dosa justru akan mendapat pengampunan,” kata Pak Tino menjelaskan. Adik-adik, sering kali kita bersikap tidak mau mengakui kesalahan. Bahkan kita tidak segan-segan menyembunyikan kesalahan agar orang lain tidak mengetahui kesalahan itu. Padahal tidak ada satu kesalahan pun yang dapat disembunyikan di hadapan Tuhan. Sikap yang benar adalah berani mengakui kesalahan, kelemahan dan dosa di hadapan Tuhan. Yuk, kita membaca Kitab Yesaya 6:1-7. Di dalam perikop tersebut, Nabi Yesaya mengaku bahwa dirinya dipenuhi dengan dosa dan merasa tidak layak berada di hadapan Tuhan yang kudus (ayat 5) dan pengakuan tersebut membuat Yesaya mendapat pengampunan dari Tuhan (ayat 7).
Doa:
Bapa di sorga, ampunilah aku yang telah berlaku dosa di hadapan-Mu. Aku memohon dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



