
12 Februari 2010
Embedded Scribd iPaper - Requires Javascript and Flash Player
Jumat, 12 Februari 2010
JANGAN MUDAH PUTUS ASA
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”
(Matius 15:25)
“Pak, beli semangkanya 5 potong,” pinta Didi pada Pak Tua, penjual buah. “Baik, Nak,” jawab Pak Tua sambil memasukkan 5 potong semangka ke dalam kantong kresek. “Ini uangnya, Pak,” kata Didi setelah Pak Tua memberikan kantong kresek berisi semangka kepada Didi. “Ini uang kembaliannya,” Pak Tua menyodorkan sejumlah uang kembalian. Didi menghitung, “Wah, ini sih kelebihan, Pak. Apa Bapak tidak rugi jika memberi uang kembalian lebih?” kata Didi sambil mengembalikan uang Pak Tua itu. “Maklum, mata Bapak telah rabun. Mau operasi katarak belum punya uang. Bapak berdoa saja, suatu hari Tuhan pasti membuka jalan,” jawab Pak Tua. Didi mengangguk-angguk. Ia salut dengan sikap Pak Tua yang tidak pernah mengeluh, apalagi berputus asa. Adik-adik, jika kita ibaratkan hidup kita seperti sebuah perjalanan, maka setiap kali bertemu jalan yang sulit untuk dilalui, apakah kita menyerah? Mari kita belajar dari seorang perempuan Kanaan dengan membaca dari Matius 15:22-28. Perempuan ini bukan berasal dari keturunan bangsa Yahudi. Dipahami oleh masyarakat Yahudi bahwa belas kasihan Tuhan hanya berlaku bagi mereka. Namun ia tetap berjuang dan tidak mengenal menyerah untuk meminta kesembuhan bagi anaknya. Melihat kegigihan hati si ibu, Tuhan Yesus memuji dan menyembuhkan anaknya. Marilah kita bertekad untuk menjadi anak-anak Tuhan yang tidak mudah berputus asa. Berusahalah sekuat tenagamu. Kamu pasti bisa! Tuhan Yesus sayang padamu.
Doa:
Bapa sorgawi, tolong aku untuk menjadi anak-anak-Mu yang pantang menyerah. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Jumat, 12 Februari 2010
JANGAN MUDAH PUTUS ASA
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”
(Matius 15:25)
“Pak, beli semangkanya 5 potong,” pinta Didi pada Pak Tua, penjual buah. “Baik, Nak,” jawab Pak Tua sambil memasukkan 5 potong semangka ke dalam kantong kresek. “Ini uangnya, Pak,” kata Didi setelah Pak Tua memberikan kantong kresek berisi semangka kepada Didi. “Ini uang kembaliannya,” Pak Tua menyodorkan sejumlah uang kembalian. Didi menghitung, “Wah, ini sih kelebihan, Pak. Apa Bapak tidak rugi jika memberi uang kembalian lebih?” kata Didi sambil mengembalikan uang Pak Tua itu. “Maklum, mata Bapak telah rabun. Mau operasi katarak belum punya uang. Bapak berdoa saja, suatu hari Tuhan pasti membuka jalan,” jawab Pak Tua. Didi mengangguk-angguk. Ia salut dengan sikap Pak Tua yang tidak pernah mengeluh, apalagi berputus asa. Adik-adik, jika kita ibaratkan hidup kita seperti sebuah perjalanan, maka setiap kali bertemu jalan yang sulit untuk dilalui, apakah kita menyerah? Mari kita belajar dari seorang perempuan Kanaan dengan membaca dari Matius 15:22-28. Perempuan ini bukan berasal dari keturunan bangsa Yahudi. Dipahami oleh masyarakat Yahudi bahwa belas kasihan Tuhan hanya berlaku bagi mereka. Namun ia tetap berjuang dan tidak mengenal menyerah untuk meminta kesembuhan bagi anaknya. Melihat kegigihan hati si ibu, Tuhan Yesus memuji dan menyembuhkan anaknya. Marilah kita bertekad untuk menjadi anak-anak Tuhan yang tidak mudah berputus asa. Berusahalah sekuat tenagamu. Kamu pasti bisa! Tuhan Yesus sayang padamu.
Doa:
Bapa sorgawi, tolong aku untuk menjadi anak-anak-Mu yang pantang menyerah. Di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
This document is © 2010 by admin - all rights reserved.
- Login to post comments
|
Media Cetak |
Media Radio |
Media Televisi |
Tentang Kami |



